Remaja Mojokerto Diajak Jauhi Rokok dan Cegah Anemia Demi Tekan Stunting

oleh -265 Dilihat
Bunda Genre Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarraa, memberikan edukasi kepada pelajar MA Al-Islamy Sedati, Kecamatan Ngoro. (Istimewa)
Bunda Genre Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarraa, memberikan edukasi kepada pelajar MA Al-Islamy Sedati, Kecamatan Ngoro. (Istimewa)

KabarBaik.co, Mojokerto – Bunda Genre Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarraa, mengajak generasi muda memahami bahaya rokok dan anemia sebagai langkah awal mencegah stunting.

Edukasi tersebut diberikan melalui Program Remaja Sehat Cegah Rokok dan Anemia (Praja Satria) di MA Al-Islamy Sedati, Kecamatan Ngoro.

Bunda Genre yang akrab disapa Bunda Hana menegaskan, pencegahan stunting harus dimulai sejak usia remaja. Menurutnya, remaja saat ini merupakan calon orang tua di masa depan sehingga perlu dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan.

“Pencegahan stunting harus kita mulai sejak remaja. Karena remaja hari ini adalah calon orang tua di masa depan. Maka, mereka harus memahami pentingnya gizi dan juga bahaya rokok, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan di sekitarnya,” ujar Bunda Hana dalam keterangannya, Sabtu (8/8).

Ia menjelaskan, dampak rokok tidak hanya dirasakan perokok aktif, tetapi juga anak dan anggota keluarga yang menjadi perokok pasif. Paparan asap rokok dinilai menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap stunting.

Selain mengganggu kesehatan anak, kebiasaan merokok juga berdampak pada kondisi ekonomi keluarga. Sebab, anggaran yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi justru habis untuk membeli rokok.

“Ketika orang tua merokok, yang terdampak bukan hanya dirinya. Anak juga bisa menjadi perokok pasif. Karena itu, kita ingin membangun kesadaran bahwa menciptakan rumah dan lingkungan yang bebas asap rokok merupakan bagian dari upaya melindungi tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Data Asesmen Hasil Program Kegiatan Sekolah Bareng Dokter Spesialis Anak (DPSA) Kabupaten Mojokerto Tahun 2024 menunjukkan paparan asap rokok dan polusi menjadi kendala terbesar dalam penanganan stunting. Dari intervensi terhadap anak usia 0-60 bulan di 27 puskesmas, faktor tersebut mencapai 65 persen.

Selain itu, asesmen juga mencatat pola asuh menyumbang 45 persen, kondisi ekonomi keluarga sebesar 20 persen, serta riwayat kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR) sebesar 10 persen.

Bunda Hana menilai penanganan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak. Karena itu, edukasi kepada remaja menjadi langkah strategis untuk membentuk kebiasaan hidup sehat sekaligus mempersiapkan mereka menjadi orang tua yang lebih peduli terhadap kesehatan keluarga.

Selain menghindari rokok, remaja, terutama remaja putri, juga didorong rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) guna mencegah anemia serta memenuhi kebutuhan gizi seimbang.

Ia berharap edukasi tersebut berjalan seiring dengan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungan sekolah, pembentukan kelompok sebaya sebagai agen perubahan, skrining kesehatan berkala, serta penguatan komunikasi, informasi, dan edukasi.

“Harapannya, edukasi ini tidak berhenti di kegiatan saja. Anak-anak dan remaja bisa menjadi agen perubahan, mulai dari dirinya sendiri, kemudian mengajak teman dan keluarganya untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.