KabarBaik.co, Nganjuk – Udara sore yang biasanya dipenuhi tawa dan hiruk-pikuk wisatawan kini hanya terdengar gemericik air sungai yang mengalir pelan. Di salah satu sudut area Wisata Air Merambat Roro Kuning, seorang pedagang bernama Siti, 52, duduk di depan lapaknya yang sudah sebagian kosong.
Rak yang dulu penuh dengan makanan ringan dan oleh-oleh kini hanya menampung beberapa bungkus kerupuk dan minuman kemasan.
“Kemarin, saya cuma dapat untung kurang dari Rp 30.000. Dulu, waktu ramai, bisa sampai ratusan ribu rupiah sehari,” ucapnya sambil mengusap sudut mata yang mulai memerah, Minggu (1/2).
Itulah gambaran, betapa sangat sepinya salah satu ikon wisata andalan Nganjuk yang berada di Desa Bakulan, Loceret, sekitar 24 kilometer arah selatan dari jantung Kota Nganjuk
“Sekarang banyak yang tutup, atau pindah berjualan di luar, tepatnya di pinggir jalan menuju Jolotundo. Ada yang bilang, lebih banyak untung di sana ketimbang di sini yang sudah seperti kuburan sunyi,” kata Siti
Ketika Akses Ramai Jolotundo Jadi Kematian Bagi Roro Kuning
Sepinya wisata air merambat Roro kuning berbanding terbalik dengan destinasi wisata jolotundo glamping edu park yang berada di satu desa hanya berjarak sekitar 1 kilometer.
Asep Bahar, 34, seorang pengunjung dari Kecamatan Bagor Nganjuk yang awalnya ingin mengeksplorasi Jolotundo glamping and edu park, tidak menyangka akan menemukan sebuah ‘museum hidup’ kemunduran di Roro Kuning.
Ketika tiba di gerbang Jolotundo sekitar pukul 10.00 WIB kemarin, ia bersama anak dan istrinya harus berbalik arah karena antrean kendaraan membentang hingga ratusan meter dan tidak ada satu pun tempat parkir yang tersisa.

“Saya berpikir, ‘baiklah, saya ke Roro Kuning aja, kan dulu terkenal banget kan?’ Tapi saat sampai di sana, saya kagum sekaligus sedih,” ceritanya dengan nada penuh kekaguman yang cepat berganti menjadi prihatin.
“Tempat yang pernah jadi wajah wisata Nganjuk, sekarang sepi banget. Cuma ada beberapa orang. Fasilitasnya juga terlihat kumuh dan rusak di beberapa bagian,” katanya saat berbincang dengan KabarBaik.co.
Di lokasi yang dulunya menjadi titik kumpul wisatawan untuk berfoto dengan latar air terjun dan tebing batu, kini hanya tersisa bekas bekas cat yang mulai pudar dan tangga yang beberapa anak tangganya sudah goyah.
“Ndak nyangka saja, di Roro kuning sekarang ini sepi sekali, orang lebih memilih jolotundo,”
ucapnya.
Jolotundo, Bintang Baru yang Mencuri Hati Semua Kalangan
Sementara itu, hanya sekitar 1 kilometer lebih dari sana, suasana di jolotundo glamping and edu park sungguh berbeda seperti malam dan siang. Musik akustik dari kafe mewah bergema lembut, wisatawan berbondong-bondong berfoto di atas jembatan ikonik dengan latar pagar warna-warni, dan anak-anak riang bermain dengan rusa di area penangkaran khusus.
Sumaji, 45, seorang pemilik warung makan di dekat gerbang Jolotundo, mengaku merasakan perubahan drastis dalam beberapa bulan terakhir.
“Dulu, kalau hari libur cuma ada beberapa kendaraan yang lewat. Sekarang mulai pagi sampai malam, selalu ramai. Bahkan ada yang datang dari Surabaya atau Malang cuma buat nongkrong di sini,” katanya sambil sibuk melayani pesanan.
Keberhasilan Jolotundo tak lepas dari konsep modern yang mereka tawarkan, glamping ala Korea dengan tenda yang dilengkapi kasur empuk dan listrik, area outbound yang siap melayani kegiatan perusahaan maupun sekolah, hingga kolam air alami yang dikelola secara profesional.
Tak hanya itu, strategi mereka yang hanya mengenakan biaya parkir sebesar Rp 5.000-Rp 10.000 namun fokus pada pendapatan dari kuliner dan wahana berbayar, membuat tempat ini menjadi pilihan ekonomis bagi banyak orang.
Akankah wisata air merambat Roro kuning menjadi destinasi wisata terlupakan, kalah dengan jolotundo yang dikelola pihak swasta, ataukah harus diubah konsep oleh instansi terkait agar PAD Nganjuk bertambah. (*)








