Rupiah Dekati Level Psikologis Rp 17.000 per USD

oleh -404 Dilihat
DOLAR
Ilustrasi: Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah.

KabarBaik.co, Jakarta, — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berada di zona tekanan kuat. Mendekati level psikologis Rp 17.000 per USD, meskipun kurs acuan resmi Bank Indonesia (BI) belum secara konsisten menembus angka tersebut di pasar spot transaksi harian.

Berdasarkan data dari berbagai pengamatan pasar menjelang akhir pekan lalu, kurs rupiah bergerak di kisaran sekitar Rp 16.900-an per dolar AS, mendekati ambang psikologis yang kerap disebut pengamat ekonomi sebagai titik krusial. Pergerakan ini terjadi di tengah dinamika global yang belum stabil, termasuk penguatan dolar AS dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Bank Indonesia (BI) sendiri mencatat kurs harian rupiah di kisaran Rp 16.900-an terhadap dolar AS pada beberapa hari menjelang libur panjang Lebaran, tanpa angka resmi BI yang secara konsisten menyentuh Rp 17.000 per USD dalam data transaksi spot.

Beberapa bank komersial di Indonesia melaporkan kurs jual dolar di counter yang sudah berada di atas Rp 17.000, bahkan mencapai sekitar Rp 17.300 di beberapa lembaga, meski ini mencerminkan kurs jual di bank dan bukan kurs acuan BI.

Kurs acuan BI (spot) adalah standar yang digunakan untuk laporan resmi dan kebijakan, sedangkan kurs jual bank dan money changer‑lah yang sering dirasakan masyarakat luas saat menukarkan uang. Kedua indikator ini bisa berbeda karena spread (selisih) dan biaya transaksi.

Faktor Pendorong Pelemahan Rupiah

Beberapa faktor utama yang memengaruhi rupiah dalam beberapa minggu terakhir, pertama penguatan Dolar AS dan Safe‑Haven Demand, Dolar cenderung kuat terhadap mata uang negara berkembang karena investor global mengalihkan modal ke aset yang dipandang lebih aman.

Kedua, volatilitas pasar global dan ketidakpastian ekonomi. Sentimen geopolitik dan pergerakan pasar global turut memberi tekanan pada aset Indonesia, termasuk rupiah.

Ketiga, arus modal keluar dan penantian kebijakan Bank Sentral. Menjelang keputusan rate Bank Indonesia, beberapa pelaku pasar bersifat wait‑and‑see, yang dapat memperburuk tekanan pada rupiah.

Dampak pada APBN

Pelemahan rupiah memiliki implikasi penting terhadap keuangan negara, terutama struktur APBN:

1. Biaya Impor & Defisit Anggaran

Jika rupiah melemah, biaya impor barang dan energi yang dibayar dalam dolar AS meningkat, terutama BBM dan bahan baku industri. Hal ini bisa menambah beban belanja negara jika pemerintah tidak mengimbangi dengan peningkatan pendapatan.

Sebagai contoh, ketika harga minyak global tinggi, pembayaran impor energi menjadi lebih mahal dalam rupiah, sehingga perlu lebih banyak rupiah untuk menutup kebutuhan yang sama. Akibatnya, pos belanja subsidi atau pembelian BBM negara bisa membengkak, memberi tekanan pada defisit APBN.

2. Utang Luar Negeri Pemerintah

Pelemahan rupiah turut menaikkan beban pembayaran utang luar negeri yang dikonversi ke rupiah. Ketika rupiah melemah, jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk membayar kewajiban dalam dolar meningkat, berpotensi memperluas defisit atau menekan cadangan kas negara jika tidak diantisipasi.

3. Penerimaan dari Ekspor

Sisi positifnya, pendapatan ekspor yang dibayar dalam dolar AS bisa lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah, membantu domestik. Namun ini hanya memberi manfaat jika volume ekspor meningkat atau stabil, dan tidak selalu bisa mengimbangi lonjakan biaya impor. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.