Rupiah Terus Terpuruk, Ratusan Ribu Jemaah Haji Pun Terpukul

oleh -99 Dilihat
KAKBAH BARU LAGI
Ilustasi jemaah di Baitullah. (Foto IST X)

ADA seloroh yang kini sedang happening alias viral di media sosial. “Orang desa tidak pakai dolar…”

Sekilas, logika itu terdengar masuk akal. Bagi masyarakat perdesaan, hiruk-pikuk lantai bursa saham Jakarta atau pergerakan mata uang asing di New York terasa seperti dunia lain yang teramat jauh. Mereka tidak membeli tas mewah impor, tidak juga berlibur ke luar negeri. Namun, benarkah badai ekonomi global ini tak sampai ke teras dan dapur-dapur rumah mereka?

Kenyataannya tidak demikian. Pelemahan rupiah saat ini layaknya riak air. Bermula dari pusat, namun gelombangnya perlahan tapi pasti menggulung hingga ke pelosok desa. Dan salah satu hantaman yang paling nyata dan memilukan tahun ini juga dirasakan oleh ratusan jemaah haji Indonesia, yang mayoritas merupakan orang kampung.

​Tahun 2026 menjadi pembuktian bahwa “dolar dan riyal” mengintai dompet yang paling sederhana sekalipun. Di Indonesia, mayoritas jemaah haji reguler bukanlah konglomerat kota, melainkan petani yang menabung puluhan tahun, pedagang pasar yang menyisihkan seribu demi seribu keuntungan, atau buruh tani yang rela hidup hemat demi satu tujuan suci: menginjakkan kaki di Mekkah.

Pemerintah memang patut diacungi jempol karena berhasil mengamankan biaya pelunasan haji resmi (Bipih) berkat strategi hedging (lindung nilai) mata uang jauh-jauh hari. Alhasil, biaya pokok tidak melonjak. Namun, cerita menjadi lain ketika para jemaah ini melangkah keluar dari pemondokan di Tanah Suci.

Arab Saudi mematok mata uangnya, Riyal (SAR), langsung ke Dolar AS. Ketika rupiah keok terhadap dolar, otomatis rupiah juga ambruk di hadapan riyal. Musim haji tahun lalu, satu riyal masih bisa ditebus dengan kisaran Rp 4.200.

Tahun ini? Angka itu melonjak tajam mendekati Rp 4.700. Bagi seorang petani dari kampung yang membawa bekal uang pas-pasan, selisih Rp 400 hingga Rp 500 per riyal adalah perkara besar.

Bayangkan seorang nenek dari desa yang ingin melaksanakan ibadah dam (denda haji) atau sekadar membeli makanan tambahan karena rindu masakan rumah.

Uang saku yang “menyusut”. Di atas kertas, jumlah Riyal yang mereka pegang mungkin sama dengan jemaah tahun lalu. Namun, jika mereka membawa modal rupiah tambahan untuk ditukarkan di sana, nilainya jadi “deflasi” parah. Uang Rp 1 juta yang tahun lalu masih bisa menghasilkan sekitar 235 Riyal, kini hanya dihargai sekitar 212 Riyal saja.

​Oleh-oleh yang menjadi “mewah”: Membelikan sejadah, kurma, atau air zam-zam untuk tetangga kampung yang sudah ikut mendoakan adalah tradisi sakral masyarakat desa. Dengan kurs yang melambung, ritual berbagi ini menjadi beban emosional dan finansial yang berat. Membeli oleh-oleh senilai 500 Riyal kini memaksa mereka merogoh kocek hampir Rp 2,4 juta, membengkak ratusan ribu dibanding tahun lalu.

​Dampak pelemahan rupiah tidak berhenti pada mereka yang berangkat ke Arab Saudi saja. Di dalam desa itu sendiri, hukum ekonomi global bekerja tanpa permisi.

Meskipun orang desa tidak membeli dolar, barang-barang yang mereka gunakan sehari-hari dipengaruhi oleh perdagangan internasional. Sektor pertanian—jantung kehidupan desa—sangat bergantung pada pupuk dan bahan kimia impor. Ketika rupiah melemah, biaya produksi pertanian naik. Biaya transportasi logistik ikut terkerek naik.

Akhirnya, harga sembako di pasar desa ikut merangkak naik. Orang desa yang tidak tahu-menahu tentang kebijakan bank sentral Amerika (The Fed), tiba-tiba harus membayar minyak goreng, tempe, dan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih mahal.

Narasi bahwa “orang desa tidak pakai dolar” adalah sebuah ilusi romantis yang usang. Di era modern ini, ekonomi global telah mengikat manusia semua dalam satu tali yang sama.

Pelemahan rupiah bukan sekadar angka merah di layar televisi para pialang saham. Tapi keringat ekstra yang harus dikeluarkan seorang petani untuk membeli pupuk, dan ia adalah helaan napas panjang seorang jemaah haji asal kampung di depan toko suvenir di kota Makkah.

Melihat dampak ini, perlindungan terhadap masyarakat perdesaan dan jemaah haji dari kelas pekerja bukan lagi sekadar opsi kebijakan ekonomi, melainkan sebuah kewajiban kemanusiaan. Karena pada akhirnya, stabilitas rupiah adalah tentang menjaga martabat dan impian orang-orang kecil di seluruh pelosok negeri. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.