KabarBaik.co – Jalan poros Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, akhir-akhir ini menjadi sorotan. Bukan karena pembangunannya, melainkan karena tumpukan sampah liar yang mencederai wajah jalan poros desa.
Sampah-sampah rumah tangga hingga limbah nonorganik terlihat menumpuk di sisi jalan. Seolah menjadi potret buram rendahnya kesadaran sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Desa Suci bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik dan PT Bumi Lingga Pertiwi (BLP) melakukan aksi bersih-bersih secara berkala sejak Kamis dan Jumat minggu lalu.
Kepala UPT Tempat Pembuangan Akhir DLH Gresik Purwaningtyas Noor Mariansyah, menyampaikan bahwa upaya ini merupakan bentuk respons atas keluhan warga sekaligus langkah preventif agar sampah tidak terus menumpuk.
“Kami tetap berkomitmen melakukan pembersihan sampah liar bersama pihak pemerintah desa. Tapi upaya ini tak bisa berhenti di penyapuan semata. Edukasi ke masyarakat itu penting, sangat penting,” kata Purwaningtyas saat dikonfirmasi, Selasa (13/5).
Meski papan peringatan sudah dipasang dan pembersihan telah dilakukan beberapa kali, hasil pemantauan DLH Gresik menunjukkan bahwa masih ada sampah baru yang dibuang oleh oknum tak bertanggung jawab. “Jumlahnya memang tidak banyak, tapi tetap saja menunjukkan belum tumbuhnya kesadaran kolektif,” ujarnya.
DLH Gresik tak hanya berhenti pada tindakan kuratif. Beberapa solusi dan rekomendasi telah digulirkan untuk mengatasi persoalan ini secara sistemik. Di antaranya, menyarankan pembentukan fasilitas pengelolaan sampah tingkat desa, kelompok pengelola sampah, pendirian bank sampah di tiap RW/RT, serta pembangunan TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) guna menekan volume sampah yang terbuang sembarangan.
“Semua itu perlu sinergi dengan pemerintahan desa dan masyarakat. Harus ada sosialisasi kepada warga agar lebih bijak mengelola sampah. Bersih-bersih bukan hanya tugas pemerintah desa atupun DLH tapi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Masalah klasik ini, menurutnya, tak akan tuntas hanya dengan pembersihan sesekali. Tanpa partisipasi aktif masyarakat dan perubahan perilaku, jalan poros Desa Suci akan terus menjadi langganan sampah liar. Edukasi, katanya, adalah kunci perubahan.
Kini, harapan digantungkan pada kesadaran warga dan kemauan kolektif untuk tidak sekadar membuang sampah pada tempatnya, tapi juga memandang kebersihan sebagai bagian dari budaya hidup. Sebab jalan desa yang bersih bukan hanya mencerminkan wajah desa, tetapi juga cermin dari warganya.(*)







