KabarBaik.co, Jember – Permasalahan lingkungan di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari kembali mencuat. Limbah dari lokasi tersebut dilaporkan telah mencemari area persawahan dan mengganggu kenyamanan permukiman warga di sekitarnya.
Warga Desa Kertosari mengeluhkan kondisi aliran irigasi yang kini keruh dan tercemar limbah TPA. Kondisi ini membuat para petani resah karena ancaman penurunan kualitas panen hingga risiko gagal panen.
“Saluran irigasi tertimbun dan air sawah tercampur limbah. Ini sangat merugikan petani,” ujar salah satu warga, Ira Dwi Arivatul Mufidah, Rabu (6/5).
Selain masalah air, warga juga mengeluhkan bau menyengat dari gunungan sampah yang kerap terbawa angin hingga ke dalam rumah.
Tak hanya aroma tak sedap, penumpukan sampah yang tidak terkendali juga memicu munculnya lalat dan ulat, yang dikhawatirkan warga dapat menjadi sumber penyebaran bakteri dan penyakit.
“Bau menyengat sudah sangat mengganggu aktivitas di rumah. Jika terus dibiarkan, ini jelas menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga sekitar,” tambah Ira.
Terkait rencana penutupan TPA Pakusari pada 1 Juni 2026 mendatang, Ira menyatakan dukungannya. Namun, ia mendesak Pemerintah Kabupaten Jember untuk tidak lepas tangan. Ia berharap pemerintah melakukan pemulihan lingkungan secara menyeluruh setelah operasional TPA dihentikan.
“Jangan sekadar tutup lalu ditinggalkan. Dampak kerusakan lingkungan akibat TPA selama bertahun-tahun harus dipulihkan,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Sobung Sarka Indonesia, Dina Putu Ayu Kristiyanti, menilai pencemaran terjadi akibat sistem pengelolaan sampah yang selama ini hanya mengandalkan penumpukan tanpa pemilahan yang maksimal.
“Ketika semua jenis sampah ditumpuk di satu lokasi, otomatis pencemaran akan terpusat di sekitar TPA,” jelas Dina.
Dina memaparkan bahwa pembusukan sampah menghasilkan air lindi yang bersifat toksik. Air inilah yang kemudian merembes dan mengalir ke saluran irigasi persawahan warga.
Sebagai langkah preventif ke depan, ia mengajak masyarakat untuk aktif melakukan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga. Menurutnya, dominasi sampah organik yang mencapai 60 persen dari total limbah harian menjadi kunci utama penyelesaian masalah.
“Jika sampah dipilah dari rumah, beban sampah yang masuk ke TPA bisa berkurang signifikan. Ini adalah langkah awal yang krusial untuk mengatasi masalah ini secara berkelanjutan,” pungkasnya. (*)






