KabarBaik.co, Malang – Riuh suasana Hari Raya Idul Fitri belum sepenuhnya reda di Kota Malang. Memasuki H+2 Lebaran, denyut kehidupan di Pasar Klojen justru terasa semakin semarak. Bukan hanya aktivitas jual beli kebutuhan pokok, sudut pasar ini berubah menjadi ruang temu para pelancong yang berburu pengalaman berbeda: menikmati secangkir kopi dengan nuansa tempo dulu.
Di antara lorong pasar yang sibuk, Klodjen Djaja 1956 menjadi magnet utama. Kedai kopi legendaris ini tak pernah sepi pengunjung. Aroma kopi yang khas berpadu dengan estetika lawas—poster film klasik seperti Gengsi Doong dan Saur Sepuh—menciptakan suasana yang membawa ingatan kembali ke era 1980-an.
Sejak pagi hari, antrean terlihat mengular. Wisatawan dari berbagai kota seperti Jakarta, Surabaya, hingga Bandung tampak rela menunggu giliran. Mereka datang bukan sekadar untuk menikmati kopi, tetapi juga merasakan pengalaman yang sulit ditemukan di kafe modern.
“Sengaja mampir ke sini mumpung lagi di Malang. Vibes-nya dapet banget, seperti kembali ke masa lalu, tapi kopinya tetap cocok dengan selera sekarang,” ujar Rena salah seorang wisatawan lokal asal Bandung sambil mengabadikan momen di depan kedai sat dijumpai, Minggu (23/3).
Fenomena ini menunjukkan bahwa Pasar Klojen bukan hanya sekadar pasar tradisional, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi wisata berbasis pengalaman. Ada tiga daya tarik utama yang membuatnya tetap menjadi tujuan favorit.
Pertama, karakter visual yang kuat. Papan nama klasik dan dekorasi bergaya retro menjadikan setiap sudut kedai terasa “hidup” dan menarik untuk diabadikan. Kedua, suasana autentik yang lahir dari aktivitas pasar itu sendiri—interaksi pedagang dan pembeli menghadirkan pengalaman sosial yang hangat dan apa adanya. Ketiga, harga yang tetap bersahabat, sejalan dengan semangat “kopi rakyat” yang diusung kedai tersebut.
Di tengah lonjakan pengunjung, suasana tetap terasa tertib. Banyak pengunjung memilih menikmati kopi sambil berdiri atau duduk santai di bangku kecil di sekitar trotoar. Percakapan ringan, tawa, dan aroma kopi yang menguar menciptakan potret kebersamaan khas Malang—hangat dan sederhana.
Lebaran memang identik dengan pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. Namun di sudut Pasar Klojen, momen itu menemukan bentuk lain: pertemuan antar kota, antar cerita, dalam balutan secangkir kopi.
Bagi siapa pun yang singgah di Kota Malang pada masa libur Lebaran, tempat ini bukan sekadar persinggahan. Ia adalah ruang untuk sejenak berhenti, menikmati waktu, dan merasakan kembali hangatnya nostalgia di tengah hiruk-pikuk perayaan. (*)






