Sedekah Ponan, Bahasa Syukur Petani Tau Samawa Berbicara dengan Alam

oleh -225 Dilihat
Sedekah Ponan oleh masyarakat Tau Samawa di Sumbawa. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Sumbawa – Tradisi Sedekah Ponan bukan sekadar ritual adat tahunan, melainkan wujud cara masyarakat Tau Samawa berkomunikasi dengan alam dan menyampaikan rasa syukur petani atas rezeki yang diterimanya.

Melalui bahasa budaya yang sederhana namun sarat makna, Sedekah Ponan menjadi ruang doa, harapan, dan kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta.

Pernyataan itu disampaikan oleh Asisten I Setda Sumbawa, Jaya Kusuma, mewakili Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot, pada acara pembukaan tradisi luhur Sedekah Ponan yang digelar di Unter Ponan Orong Rea, Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Minggu (1/2) pagi.

Kegiatan tahunan yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur Tau Samawa ini dihadiri berbagai unsur masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, serta jajaran pemerintah daerah.

Jaya Kusuma menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, lembaga adat, serta masyarakat Desa Poto, Lengas, Malili, dan sekitarnya yang terus menjaga tradisi ini agar tetap hidup dan bermakna.

“Sedekah Ponan bukan sekadar agenda tahunan dan bukan pula seremoni biasa. Ini adalah cara masyarakat berbicara dengan alam, cara petani menyampaikan rasa syukur dan harapan melalui bahasa budaya yang sederhana namun penuh makna,” ujar Jaya Kusuma.

Ia menegaskan, tradisi ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak berdiri sendiri. Sawah yang hijau bukan hanya hasil kerja keras manusia, tetapi juga buah dari doa, kebersamaan, serta kesadaran menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan lingkungan.

Lebih lanjut, Sedekah Ponan sarat dengan pesan ekologis yang diwariskan oleh leluhur. Beragam kuliner tradisional seperti petikal, buras, dange, dan onde-onde dimasak dengan cara direbus atau dibakar serta dibungkus menggunakan daun pisang dan daun kelapa.

“Ini bukan tanpa alasan. Nenek moyang kita telah mengajarkan keselarasan dengan alam. Daun pisang dan kelapa mendorong masyarakat untuk menanam dan melestarikan tanaman tersebut. Cara memasak dengan direbus dimaknai sebagai simbol doa yang menguap ke langit, harapan agar hujan turun mengairi sawah,” jelasnya.

Nilai tersebut, menurutnya, sejalan dengan petuah Lawas Tau Samawa: “Kle tu sabalong desa, na sarusak tani tana, sanuman nanta tu mudi” yang bermakna bahwa pembangunan tidak boleh merusak sawah dan lingkungan, karena di sanalah masa depan disemai.

Ia menilai pesan moral tersebut sangat relevan dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang kini banyak digaungkan. Adat, kata dia, telah lebih dulu mengajarkan prinsip tersebut jauh sebelum istilah pembangunan berkelanjutan dikenal luas.

Selain sebagai ruang silaturahmi, berbagi, dan gotong royong tanpa sekat sosial, Sedekah Ponan juga menjadi media pewarisan nilai budaya kepada generasi muda. Keterlibatan pemuda dalam seni budaya dan pelaksanaan kegiatan menjadi bukti bahwa tradisi ini terus hidup dan bergerak ke masa depan.

Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Sumbawa melihat Sedekah Ponan memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya di Kecamatan Moyo Hilir. Lokasinya yang sarat sejarah, keberadaan makam para ulama dan leluhur, termasuk Makam Haji Batu yang dikeramatkan, menjadi kekayaan budaya yang unik.

“Jika dikelola dengan bijak tanpa menghilangkan nilai sakralnya, Sedekah Ponan dapat menjadi magnet wisata budaya yang menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus menjadi ruang edukasi tentang kearifan lokal Tau Samawa,” tandasnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.