KabarBaik.co, Blitar – Di saat kuliner kekinian terus bermunculan, ada satu warung sederhana di Desa Jiwut, Kecamatan Ngleegok, Kabupaten Blitar yang tetap jadi favorit banyak orang.
Soto Babat Pak Jito Jiwut, namanya. Tidak neko-neko, tapi rasanya bikin orang susah pindah ke lain hati.
Warung ini sudah ada sejak 1984. Dulu, tempatnya cuma bangunan gedek sederhana.
Pendirinya, almarhum Pak Jito. Ia merintus jualan bareng sang istri Ibu Suryani.
Menariknya, awalnya bukan soto yang dijual, tapi es campur jadul dengan es serut manual yang dulu jadi primadona.
Seiring waktu, es campur mulai kalah pamor. Justru soto babat dan soto daging yang pelan-pelan jadi andalan. Sampai sekarang, menu itu yang bikin warung ini tetap ramai.
Windari, anak Pak Jito yang sekarang ikut mengelola, bilang kalau kunci utamanya cuma satu: tetap pakai resep lama.
“Nggak ada yang diubah. Dari dulu ya begitu, bumbunya sederhana,” ujarnya, Sabtu (11/4).
Kesederhanaan itu justru jadi kekuatan. Rasa kuahnya khas, babatnya empuk, dan aromanya langsung bikin lapar. Banyak pelanggan datang bukan cuma buat makan, tapi juga buat nostalgia.
Tidak sedikit yang dulu diajak orang tuanya makan di sini, sekarang balik lagi bawa keluarga sendiri. Bahkan perantau yang pulang ke Blitar sering menjadikan warung ini sebagai tujuan wajib.
Suasana warungnya juga masih terasa hangat. Semua dikerjakan sendiri oleh keluarga, tanpa karyawan luar.
“Marem kalau dipegang sendiri,” kata Windari.
Itu yang bikin rasanya tetap konsisten dan suasananya beda lebih kayak makan di rumah sendiri.
Soal penjualan, jangan dianggap sepele. Dalam sehari, mereka bisa menghabiskan minimal 20 kilogram babat. Kalau lagi ramai, bisa sampai 25 kilogram.
Windari mengatakan, warung biasanya buka sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WIB, tergantung kesiapan masakan.
“Tapi jangan datang terlalu sore. Kalau sudah habis, ya tutup,” pungkasnya.(*)






