KabarBaik.co – Musim penghujan menjadi berkah tersendiri bagi Julianto, 31, warga Dusun/Desa Banjarsari, Bareng, Jombang.
Saat sebagian orang enggan mendatangi kebun yang becek dan lembap, Julianto justru memanfaatkannya untuk berburu jamur liar bernilai ekonomi tinggi.
Setiap pagi, Julianto menyusuri kebun hingga area hutan untuk mencari dua jenis jamur yang tumbuh subur saat musim hujan, yakni jamur barat dan jamur trucuk.
Kedua jamur tersebut dikenal aman dikonsumsi, memiliki cita rasa khas, serta dipercaya bermanfaat bagi kesehatan.
Jamur barat yang memiliki nama latin Lepista nebularis atau Clitocybe nebularis berukuran cukup besar dan biasanya tumbuh satu per satu di area lembap, terutama di sekitar sarang rayap.
Sementara itu, jamur trucuk (Auricularia polytricha) berukuran lebih kecil, tumbuh bergerombol, dan banyak ditemukan di bawah pepohonan besar seperti bambu atau pinus.
“Kalau musimnya jamur barat biasanya Desember sampai Februari. Tempatnya di lokasi lembap, apalagi kalau ada sarang rayap, biasanya ada jamurnya,” kata Julianto saat ditemui, Minggu (11/1).
Hasil buruan jamur Julianto setiap hari tidak menentu. Dalam kondisi biasa, ia memperoleh sekitar dua kilogram jamur. Namun saat panen melimpah, hasilnya bisa mencapai tiga hingga empat kilogram per hari.
Jamur-jamur tersebut dijual dengan harga berkisar antara Rp 80.000 hingga Rp 100.000 per kilogram, tergantung ukuran. Jamur berukuran kecil atau masih ‘nerucuk’ biasanya memiliki harga lebih tinggi.
“Kalau yang kecil-kecil bisa sampai Rp 100.000 per kilo. Kalau yang besar sekitar Rp 80.000 sampai Rp 90.000,” ujarnya.
Sebagian hasil panen dikonsumsi sendiri, sementara sisanya dipasarkan kepada pelanggan di wilayah Jombang.
Penjualan dilakukan secara daring melalui media sosial seperti Facebook dan WhatsApp. Setelah dibersihkan, jamur dikemas dalam kotak styrofoam berisi 100 gram dan dijual seharga Rp 8.000 per kemasan.
Dalam kondisi panen maksimal, Julianto mengaku bisa meraup omzet hingga Rp 200.000 per hari. Jika dilakukan secara konsisten selama musim hujan, penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp 6 juta per bulan.
“Kalau dapat tiga kilo saja, dikali Rp 80.000, sudah sekitar Rp 200.000 per hari,” tuturnya.
Selain memiliki rasa lezat saat diolah menjadi tumisan, jamur barat dan jamur trucuk juga dipercaya memiliki berbagai manfaat kesehatan, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan otot dan saraf, menurunkan kolesterol, mengontrol tekanan darah, hingga membantu menjaga kesehatan tulang.
Meski demikian, Julianto mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi jamur liar. Pasalnya, tidak semua jamur aman untuk dimakan.
“Jamur berbahaya biasanya bagian bawahnya hitam dan ada cincinnya. Kalau jamur barat dan trucuk ini sudah alami dan banyak orang tahu,” katanya.
Bagi Julianto, musim hujan bukan sekadar membawa lumpur dan genangan air, melainkan menjadi momentum untuk mengais rezeki dari alam, selama dilakukan dengan pengetahuan dan kehati-hatian. (*)






