Kabarbaik.co – Hujan deras hanyutkan luka, tapi tak bisa sembuhkan kesusahan sosok guru yang telah 7 tahun mengabdi tanpa status resmi ini. Cerita sedih namun tak membuat ‘Umar Bakrie’ ini patah maupun kehilangan semangat mengajar.
Badai musim penghujan mengguyur jalan raya menuju SDN Gondang, Pace, Nganjuk. Pohon mangga yang rindang di halaman sekolah menghentak daunnya seolah meratap, menyaksikan sosok seorang pria yang dengan hati-hati menginjakkan kaki di atas genangan air yang membekas di halaman masuk sekolah.
Setiap langkahnya terasa berat bukan hanya karena lumpur yang menempel, tapi juga karena bagian belakang sepatunya yang jebol terbuka lebar, seperti mulut yang tak berdaya berteriak mengeluh.
Ia adalah Mohamad Anang Arianto, guru agama Islam yang telah tujuh tahun mengabdi di sekolah dengan bangunan lantai dan dinding keramik mengkilap. Warna hijau cerah keramik membuat ruangan terasa lebih segar. Taman bunga yang terawat rapi di sekitar bangunan juga semakin menambah kesan nyaman.
Namun kejernihan warna hijau yang menghiasi setiap sudut sekolah seolah menjadi elegi perbandingan kemegahan fasilitas dengan kondisi kesejahteraan sang pendidik. Anang sedih belum bisa membeli sepatu baru menggantikan sepatu rusaknya.
“Tiap hujan datang, bagian sobek sepatu ini langsung basah meresap ke kaki,” ujar Anang dengan suara yang lembut saat menyela jeda waktu istirahat siswa, Jumat (23/1).
Tangannya masih hangat setelah memegang buku pelajaran. Pria 35 tahun ini lalu sedikit menggoyangkan sepatunya yang sudah tak bisa lagi disembuhkan.
“Uang yang saya dapatkan setiap bulan Rp 400 ribu. Sebagian besar habis untuk bensin, karena saya harus bolak-balik sejauh 15 kilometer dari rumah ke sekolah.” ungkapnya
Di depan papan tulis yang bersih, Anang terlihat penuh semangat mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada puluhan siswa. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar menerangi permukaan keramik di lantai dan dinding, sementara di luar, dedaunan mangga yang berguguran di halaman seolah menjadi saksi bisu betapa jauhnya jarak antara fasilitas sekolah yang semakin baik dengan nasib seorang guru yang tekun ini

Sudah dua kali Anang mengajukan diri untuk tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Namun hingga kini tak ada kabar sedikit pun. Bersama dua rekannya, Siti Komariyah dan Binti Mariatil Qiftiah, ia termasuk dalam kategori tenaga pembantu yang tidak mendapatkan anggaran dari sekolah.
“Sebagai Kepala sekolah, saya sudah mencoba membantu, Semoga melalui media massa ini, nantinya akan ada tindak lanjut dari pemerintah, ketiga tenaga pengajar ini sudah lama mengabdi,” ungkap Kepala SDN Gondang Pace Mohamad Sukirno didampingi ketiga guru.
Setelah jam pelajaran berakhir dan siswa pulang ke rumah masing-masing, suasana sekolah yang ramai pun sirna digantikan oleh keheningan yang hanya dipecah oleh suara angin menyapu dedaunan kering di bawah pohon mangga.
Di saat itu pula, Anang segera bergegas pulang untuk kemudian mengganti pakaian dan menjadi pengemudi ojek online hingga larut malam.
“Kadang malam saya pulang dengan badan lelah, tapi gimana lagi saya tidak punya pilihan,” ucapnya sambil mengemas helm dan jaketnya.
“Anak-anak di kelas itu harus mendapatkan pendidikan yang baik, dan saya rela melakukan apa saja untuk tetap bisa mengajar mereka meskipun harus berjalan dengan sepatu jebol di tengah hujan dan lumpur.” katanya dengan senyuman.
Di ufuk barat, matahari mulai tenggelam menyisakan warna jingga yang memercik di langit. Bayangan panjang Anang terlihat jelas di jalan menuju rumahnya, seolah menggambarkan betapa panjangnya perjuangan yang masih harus ia lalui. Menunggu saatnya di mana seorang guru yang tekun ini tidak lagi harus memilih antara membeli sepatu baru atau mencukupi kebutuhan makan keluarga.
“Semoga suatu hari pemerintah bisa melihat bahwa di balik kemegahan sekolah, ada orang-orang yang bekerja keras untuk menjaga api pendidikan tetap menyala meskipun dengan kondisi yang jauh dari layak,” tutur Anang dengan mata yang penuh harap mengakhiri perbincangan. (*)






