KabarBaik.co – Setelah lebih dari satu dekade hanya menjadi kenangan dan tumpukan barang peninggalan bersejarah di gudang, kini Bojonegoro akhirnya kembali memiliki rumah untuk menyimpan jejak masa lalunya.
Museum Rajekwesi Bojonegoro, yang sempat terbengkalai selama 13 tahun, kembali dibuka dan diresmikan oleh Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348, Senin (20/10).
Peresmian museum yang berlokasi di bekas Gedung Inspektorat Bojonegoro, Jalan Pahlawan, ini menjadi momen penuh makna bagi masyarakat. Bagi sebagian warga, terutama mereka yang tumbuh di era 1990-an, Museum Rajekwesi bukan sekadar tempat menyimpan benda tua, melainkan simbol kebanggaan daerah yang sempat hilang dari peta sejarah Bojonegoro.
“Kita harus berbangga hati, sebab museum dihadirkan kembali sebagai pusat pelestarian warisan budaya dan ruang edukasi bagi seluruh masyarakat Bojonegoro,” ujar Bupati Bojonegoro,Setyo Wahono.
Museum Rajekwesi semula berada di kompleks Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro. Namun, sejak 2013, saat pemerintahan Bupati Suyoto memindahkan koleksinya ke kompleks Sekolah Model Terpadu di Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, museum itu tak lagi beroperasi seperti sedia kala.
Selama hampir 12 tahun, sebagian koleksi peninggalan pra-sejarah Bojonegoro tersimpan dalam kondisi terbatas. Kini, setelah melalui proses revitalisasi, museum itu tampil dengan wajah baru dan penataan lebih modern. Pengunjung akan disambut oleh sejumlah ruang tematik, mulai dari koleksi fosil purbakala seperti gigi hiu dan tulang gajah, hingga artefak sejarah dari berbagai era peradaban di Bojonegoro.
Salah satu ruang yang menarik perhatian adalah Ruang Hindu-Buddha, yang menampilkan replika Prasasti Adan-Adan, peninggalan era Kerajaan Majapahit yang menandai pentingnya Bojonegoro dalam jalur sejarah klasik Nusantara.
“Museum bukan hanya tempat menyimpan barang, tetapi refleksi bagi generasi muda untuk belajar, mengenal tokoh budaya, dan memahami bagaimana Bojonegoro terbentuk hingga hari ini,” jelas Bupati.
Dengan dibukanya kembali Museum Rajekwesi, Bojonegoro seolah menegaskan bahwa warisan budaya tidak boleh dibiarkan hilang ditelan waktu. Di balik setiap fosil, prasasti, dan artefak, tersimpan cerita panjang tentang manusia dan tanah yang melahirkannya. Kini, cerita itu kembali hidup di ruang yang sejuk, di tengah denyut kota yang terus tumbuh. (*)






