KabarBaik.co, Banyuwangi – Upaya penguatan hilirisasi energi dan pangan nasional kembali bergulir. Danantara resmi memulai pembangunan sejumlah proyek strategis fase pertama secara serentak di berbagai daerah pada Jumat (6/2). Salah satu proyek utama yang ditandai dengan peletakan batu pertama adalah pembangunan pabrik bioetanol di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Pabrik bioetanol ini dirancang sebagai bagian dari pengembangan industri energi baru dan terbarukan berbasis komoditas dalam negeri, khususnya tebu. Proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi antara PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan PT Perkebunan Nusantara III melalui subholding PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Mahmudi, menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung penuh kebutuhan bahan baku pabrik bioetanol berupa molases. Untuk kapasitas produksi sekitar 100 kiloliter per hari, kebutuhan molases diperkirakan mencapai 120 ribu ton per tahun.
“Produksi molases SGN saat ini mendekati 700 ribu ton per tahun yang disuplai oleh lima pabrik gula SGN di wilayah Banyuwangi dan sekitarnya. Dengan kapasitas tersebut, kami optimistis pasokan bahan baku dapat terpenuhi secara berkelanjutan,” ujar Mahmudi.
Acara peletakan batu pertama tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono, serta jajaran manajemen PT Pertamina PNRE.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap pembangunan pabrik bioetanol ini. Ia menilai proyek tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta membuka peluang kerja baru bagi masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyambut baik pembangunan pabrik bioetanol ini. Kami berharap pengelolaannya dilakukan secara profesional, bertanggung jawab, serta melibatkan masyarakat lokal agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung,” kata Ipuk.
Sementara itu, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menjelaskan bahwa Banyuwangi dipilih sebagai lokasi pengembangan awal bioetanol karena memiliki dukungan sumber daya yang memadai, baik dari sisi bahan baku maupun infrastruktur. Pabrik ini akan dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 10 hektare.
Menurut Agung, pengembangan bioetanol merupakan langkah strategis dalam memperkuat bauran energi nasional sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya domestik. Nantinya, hasil produksi bioetanol akan disalurkan melalui jaringan distribusi Pertamina Patra Niaga.
“Kami melihat bioetanol sebagai elemen penting dalam transisi energi nasional. Proyek ini merupakan wujud kolaborasi nyata antara Pertamina, PTPN, dan SGN untuk memperkuat ekosistem energi bersih di Indonesia,” ujar Agung di sela-sela kegiatan groundbreaking.
Sekretaris Perusahaan PT SGN, Yunianta, menambahkan bahwa keterlibatan SGN dalam proyek ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam mendukung program hilirisasi berbasis tebu. Langkah ini juga dinilai mampu memperluas peran industri gula nasional dalam pengembangan energi terbarukan.
“Kolaborasi ini membuka peluang besar bagi pemanfaatan produk turunan tebu secara lebih optimal dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi industri gula nasional,” jelasnya.
Pembangunan pabrik bioetanol di Banyuwangi merupakan bagian dari enam proyek hilirisasi nasional yang dijalankan Danantara. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor energi, pertanian, pangan, dan mineral dengan tujuan meningkatkan nilai tambah komoditas strategis serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Melalui sinergisitas lintas sektor ini, pemerintah dan pelaku industri optimistis hilirisasi dapat menjadi motor penggerak kemandirian energi nasional sekaligus memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di masa depan.






