Penting & Menarik:
- Arimbi Syifana menjadi pemain termuda dalam sejarah Proliga dengan usia 13 tahun, bergabung di Jakarta Livin Mandiri sebagai opposite.
- Jakarta Livin Mandiri berada di posisi keenam klasemen setelah seri Bandung. Namun, belakangan mulai menunjukkan perbaikan dengan dua kemenangan beruntun.
KabarBaik.co– Di ruang ganti Jakarta Livin Mandiri, nama-nama besar berderet rapi. Yolla Yuliana, middle blocker berusia di atas 30 tahun dengan jam terbang timnas. Ana Bjelica, opposite asing asal Serbia, yang telah berkeliling liga internasional. Beberapa deretan nama lain juga pernah mencicipi seragam Timnas Indonesia.
Namun, di antara tubuh-tubuh atlet matang tersebut, berdiri sosok yang paling mencolok. Bukan karena pengalaman, melainkan karena usianya. Ia adalah Arimbi Syifana Andayani. Bocah 13 tahun itu menjadi titik kontras paling tajam di skuad Jakarta Livin Mandiri pada Proliga 2026.
Jika Yolla Yuliana adalah buku tebal berisi pengalaman, maka Arimbi adalah halaman pertama yang baru dibuka. Namun, halaman itu sudah langsung ditulis di panggung tertinggi.
Arimbi, yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 16 Maret 2012, resmi mencatat diri sebagai pemain termuda sepanjang sejarah Proliga. Ia bermain di posisi opposite, posisi yang biasanya diisi pemain matang dengan fisik dan mental kuat. Dengan tinggi 176 cm dan berat 60 kilogram, Arimbi bahkan secara postur sudah melampaui sebagian pemain seusianya.
Rutinitas Arimbi kini jauh berbeda dengan anak SMP pada umumnya. Saat teman-teman sebayanya memulai hari dengan buku pelajaran, Arimbi belakangan kerap memulainya dengan latihan fisik.
“Capek banget, terus latihan pagi sore. Bangun pagi udah fisik. Pasti ditekanin banget sih karena kita punya target,” ujar Arimbi, jujur menggambarkan kerasnya dunia profesional yang baru dia masuki, seperti dituturkan dalam akun IG miliknya.
Di Jakarta Livin Mandiri, Arimbi berlatih satu lapangan dengan pemain yang selisih usianya nyaris dua dekade. Yolla Yuliana, yang pernah menjadi tulang punggung timnas, kini satu tim dengan remaja yang baru duduk di bangku SMP KP Ciparay, setelah lulus dari SD Negeri Karangayu 02 Semarang.
Tekanan itu tak dipungkiri. Debut di Proliga menjadi pengalaman pertama yang membuat jantungnya berdebar. “Perasaannya pasti deg-degan, karena ini first experience aku. Tapi senang banget bisa ikut Proliga,” kata Arimbi.
Namun Arimbi merasa tidak sendirian. Dia menyebut para senior menjadi penopang mentalnya di tengah kerasnya persaingan. “Aku disemangatin terus. Dibilang jangan gugup, komunikasinya harus jalan. Kalau mental aku lagi down, dinaikin lagi sama senior-senior. Banyak banget yang bantu,” ujarnya.
Pelatih, menurut Arimbi, menerapkan disiplin keras. Tapi itu ia pahami sebagai proses pembelajaran. “Pelatih keras dan disiplin, tapi ini buat jadiin aku pelajaran. Apalagi ini pertama kali aku,” ucapnya.
Nama Arimbi sebenarnya bukan datang tiba-tiba. Dia adalah produk pembinaan Rajawali O2C, akademi yang telah dimasuki sejak usia sangat muda. Bakatnya mulai dikenal luas saat tampil di Kejurda Bola Voli Indoor Antar Klub U14 Jawa Barat 2025, di mana dia menyabet penghargaan pemain terbaik.
Namanya kemudian masuk dalam daftar pemain Rajawali O2C di babak final four Livoli Divisi Utama 2025. Bahkan, telah terdaftar resmi di website PBVSI. Arimbi tampil sebagai solusi ketika banyak pemain inti Rajawali O2C dipanggil memperkuat Timnas Voli Putri Indonesia U18 di Asian Youth Games 2025.
Dari Livoli, langkah Arimbi meloncat jauh, langsung ke Proliga. Sebagai opposite, Arimbi kini harus berhadapan dengan blok-blok kokoh tim elite, berhadapan dengan pemain matang dari klub-klub kuat. Namun, justru di situlah proses pembentukannya dimulai.
Megawati Hangestri, idola Arimbi sekaligus ikon voli putri Indonesia, ikut menyoroti kemunculan sang remaja. “Dengan umur yang baru 13 tahun, Arimbi bisa lebih banyak berkembang lagi dari skill dan tinggi badan,” tulis Megawati di laman media sosialnya.
Target Arimbi bersama Jakarta Livin Mandiri pun tak main-main. “Targetnya masuk final four, terus juara satu. Amin,” katanya mantap.
Di usia 13 tahun, Arimbi memang belum selesai tumbuh. Baik secara fisik maupun mental. Namun seperti tunas yang muncul di tengah hutan para pohon tua, kehadirannya memberi tanda bahwa regenerasi voli Indonesia sedang bergerak.
Proliga 2026 pun bukan sekadar musim debut bagi Arimbi Syifana Andayani. Dia adalah awal perjalanan panjang, di mana seorang bocah SMP mulai menuliskan mimpinya di panggung orang-orang dewasa.
Di tengah mimpi Arimbi, tim yang dibelanya Jakarta Livin Mandiri di Proliga 2026 saat ini sedang menjalani perjalanan berat.
Hingga seri ketiga yang berlangsung di Bandung pekan kemarin, tim asuhan Danai Sriwatcharamethakul itu masih menempati posisi bawah klasemen putri, berada di peringkat keenam dari tujuh tim dengan koleksi enam poin hasil dua kemenangan dari lima pertandingan.
Meski demikian, performa Livin Mandiri belakangan mulai menunjukkan tanda perbaikan. Di Seri Bandung, mereka berhasil meraih kemenangan. Termasuk mengalahkan Jakarta Popsivo Polwan dengan skor 3–1 setelah sempat tertinggal di awal set pertama.
Kemenangan itu menjadi sinyal bahwa Livin Mandiri mulai menemukan ritme permainan yang lebih stabil, walaupun masih harus mengejar selisih set dan rasio kemenangan dengan tim-tim di atasnya seperti Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia, Jakarta Pertamina Enduro, Bandung BJB Tandamata, dan Jakarta Electric PLN Mobile.
Proliga 2026 bukan sekadar musim debut bagi Arimbi Syifana Andayani. Sebuah awal perjalanan panjang, di mana seorang bocah SMP mulai menuliskan mimpinya di panggung orang-orang dewasa. (*)






