KabarBaik.co – Panggung di lantai dua Pasar Tunjungan yang dipenuhi nuansa lawas menjadi saksi dari pertunjukan yang luar biasa intim namun berbobot historis: “Orkes Silampukau: Komedie Toendjoengan,” yang digelar Jumat (12/12) malam.
Duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening tidak hanya menghibur, tetapi sukses menyulap lokasi ikonik itu menjadi mimbar narasi kota yang terlupakan, merayakan dua tonggak penting: satu dekade album Dosa, Kota, dan Kenangan dan perayaan atas terbitnya Stambul Arkipelagia Vol. 2.
Konser ini didedikasikan sebagai perayaan sepuluh tahun album debut mereka, Dosa, Kota, dan Kenangan (2015), yang menjadi pondasi bagi musik folk urban Indonesia. Namun, fokus utama malam itu adalah peluncuran dan penayangan penuh dari proyek teranyar mereka, Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2.
Pertunjukan segera mencapai intensitas maksimum sejak detik pertama. Setelah ruangan gelap dan formasi mengambil posisi, konser dibuka dengan lagu yang sangat dinanti, “Malam Jatuh di Surabaya,” yang langsung menghentak kesadaran audiens.
Melodi orkestra yang gelap dan melankolis mengiringi lirik yang menggambarkan realitas keras kota, menetapkan nada untuk malam perenungan yang akan datang. Lirik pembuka ini disuarakan Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening dengan penuh tekanan, membawa imaji yang sangat spesifik tentang Surabaya:
Gelanggang ganas, di Ahmad Yani yang beringas. Sinar kuning merkuri: pendar celaka akhir hari. Malam jatuh di Surabaya.
Maghrib mengambang lirih dan terabaikan, Tuhan kalah di riuh jalan. Orkes jahanam mesin dan umpatan, malam jatuh di Surabaya.
Pembukaan ini bukan hanya sekadar lagu; ia adalah penyataan misi. Dengan menggambarkan “Tuhan kalah di riuh jalan” dan “gelanggang ganas” di jalur utama (Ahmad Yani), Silampukau segera menyuling suara-suara yang terbungkam dari pinggiran kota modern dan mengamplifikasinya di lokasi yang penuh sejarah—Jalan Tunjungan.
Dalam setlist yang panjang dan ambisius, Silampukau dengan formasi yang diperkuat, menyajikan seluruh lagu dari kedua volume Stambul Arkipelagia. Lagu-lagu baru dan lama disatukan, menciptakan sebuah kronik perjalanan kota yang utuh, yang kemudian ditutup dengan pilihan-pilihan terbaik dari album Dosa, Kota, dan Kenangan.
Silampukau, melalui liriknya, selalu dikenal sebagai penyaring suara-suara yang dibungkam di pinggiran. Konsep pertunjukan ini terasa sangat relevan, di mana mereka menyuling semangat Jalan Tunjungan, bukan dari kemegahannya sebagai pusat kota hari ini, tetapi dari akarnya: sebuah jalan lintasan kawasan pinggiran (kawasan Simpang) menuju pusat kota lama (kawasan Jembatan Merah).
Jalan Tunjungan, yang juga menjadi lokasi insiden perobekan bendera legendaris, adalah ikon heroisme. Silampukau mengambil semangat heroisme tersebut dan mengamplifikasinya melalui musik dan lirik puitik yang menyuarakan realitas pinggiran. Eki Tresnowening (vokal/gitar) dan Kharis Junandharu (vokal/gitar) memainkan peran troubadour yang memandu audiens dalam perjalanan geografis dan historis tersebut.
Inti dari pertunjukan ini adalah “Komedie Toendjoengan” itu sendiri. Alih-alih menampilkan kepahlawanan dengan wajah gegap gempita, Silampukau memilih wajah komedi; perlawanan dalam banyolan yang penuh ironi.
Momen tersebut terasa paling kuat ketika lagu “Sejoli” dibawakan. Lagu ini, yang menceritakan kisah percintaan dengan kejutan tak terduga, disisipkan kritik sosial yang tajam. Kharis, dengan vokal dan petikan gitarnya, menciptakan suasana yang ringan, kontras dengan lirik yang gelap:
Erika: …Amboi, nasib apa yang sembunyi menantinya, di neg’ri sengeri hari-hari ini, di ambang tirani? Hai, anak binatang asmara!
Lirik tersebut, yang mengungkapkan kekhawatiran pribadi yang bertemu dengan kondisi politik kolektif (“di ambang tirani”), menunjukkan bagaimana Silampukau menggunakan narasi personal untuk menyentil kegelisahan besar. Pertunjukan ini menegaskan kembali bahwa banyolan dan humor pahit adalah senjata ampuh untuk menyampaikan perlawanan.
“Orkes Silampukau: Komedie Toendjoengan” berhasil merangkum sepuluh tahun perjalanan artistik mereka dalam satu malam. Dari cerita-cerita Stambul Arkipelagia yang berakar pada sejarah yang disamarkan, hingga nostalgia kelam Dosa, Kota, dan Kenangan, Silampukau telah mengukuhkan posisinya sebagai penulis sejarah urban Indonesia yang paling jujur dan puitis. Konser ini adalah perayaan ikonik bagi Surabaya, di mana Tunjungan menjadi panggung bagi kisah-kisah pinggiran yang akhirnya teramplifikasi.






