KabarBaik.co– Dunia hiburan dan bisnis Indonesia baru saja menyaksikan sebuah perhelatan menarik. Tidak hanya wah secara visual, melainkan juga sarat makna simbolis. Yakni, pernikahan Darma Mangkuluhur Hutomo, putra sulung Tommy Soeharto, dengan DJ Patricia Schuldtz. Prosesi nikahnya memang sudah berlangsung Minggu (11/1) lalu. Namun, gemanya masih membekas. Di media sosial masih terasa happening.
Digelar di kawasan asri Sentul, Jawa Barat, acara tersebut bukan sekadar sebuah resepsi. Namun, seolah menegaskan sebuah pernyataan tentang identitas dan perpaduan dua dunia yang berbeda.
Sejak fajar menyingsing di hari akad nikah, suasana sakral sudah menyelimuti lokasi acara. Di setiap resepsi pernikahan elite, pilihan adat selalu menjadi spotlight tersendiri. Darma dan Patricia memilih untuk mengikuti pakem tradisional yang ketat. Adat Jawa Solo. Bagi banyak orang, pemandangan itu tentu menjadi momen unik sekaligus mengejutkan. Betapa tidak, Patricia Schuldtz, dikenal luas sebagai sosok modern dan berdarah Jerman-Tionghoa.
Nah, saat itu Patricia bertransformasi total menjadi putri yang njawani. Dari visual yang beredar, ia tampak dengan riasan paes hitam pekat yang simetris dan roncean melati. Patricia pun terlihat memancarkan aura keanggunan klasik. Sementara itu, Darma tampil dengan beskap senada, menunjukkan kewibawaan lain sebagai cucu dari Presiden RI ke-2 Soeharto.
Penggunaan busana dalam prosesi tersebut seolah menegaskan, meskipun pasangan ini tumbuh dengan pengaruh global yang kuat, akar budaya tetap menjadi fondasi utama dalam membangun bahtera rumah tangga.
Di balik tirai dekorasi yang eksklusif, di antara narasi yang menarik lainnya tentu saja kehadiran Tommy Soeharto dan Tata Cahyani. Untuk kali pertama dalam sebuah acara publik yang begitu intim, kedua orang tua Darma itu hadir. Senyum merekah seolah menjadi simbol kedamaian baru bagi keluarga besar Cendana.
Kehadiran sejumlah tokoh penting sekaligus keluarga seperti Presiden Prabowo Subianto, Titiek Soeharto, hingga anggota keluarga besar Cendana lainnya, memberikan bobot historis pada acara tersebut. Resepsi ini seolah menjadi ajang reuni keluarga besar yang hangat, jauh dari kesan kaku yang mungkin selama ini sering dibayangkan publik. Di sini, publik telah melihat sisi lain sebuah dinasti bisnis dan politik nasional
Salah satu momen paling ikonik resepsi itu adalah ketika alunan nada lagu Back at One menggema di ruangan. Kabarnya, Darma sengaja memberikan kejutan luar biasa dengan mendatangkan musisi legendaris internasional, Brian McKnight. Namun, kejutan itu bukan untuk menunjukkan kemampuan finansial, melainkan sebuah hadiah cinta untuk sang ibu, Tata Cahyani.
Dalam sebuah pernyataan singkatnya, Darma mengungkap bahwa lagu-lagu Brian McKnight adalah bagian dari memori masa kecilnya bersama sang ibu. Melihat Tata Cahyani yang tak kuasa menahan haru saat sang musisi legendaris itu bernyanyi tepat di hadapannya, menjadi salah satu adegan seru yang viral. Satu bukti kedekatan anak dan ibu.
Keunikan pernikahan pasangan ini tidak berhenti di ritual adat. Sebagai seorang DJ profesional, Patricia Schuldtz membawa identitasnya ke atas pelaminan. Setelah menjalani prosesi yang sakral saat pagi, Patricia melakukan transisi di sesi after party. Dia melepas atribut pengantin tradisionalnya, menggantinya dengan gaun modern yang lebih dinamis. Naik ke atas booth DJ.Aksinya memainkan turn-table untuk menghibur para tamunya, menciptakan kontras yang memikat. Representasi pasangan “Modern Cendana”. Menghargai masa lalu, namun tidak takut merayakan jati diri sebagai individu yang mandiri dan kreatif.
Di sudut lain keramaian pesta, kehadiran Gayanti Hutami Rayidi (Aya) juga menjadi magnet tersendiri. Putri bungsu Tommy Soeharto itu dikenal lebih tertutup. Selama ini, Aya juga menetap di Singapura, Parasnya mirip dengan Tata Cahyani. Sejumlah warganet pun memujinya sebagai potret keanggunan muda keluarga tersebut.
Kilas Balik Tommy Soeharto-Tata Cahyani
Pernikahan Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto dengan Raden Ayu Ardhia Pramesti Regita Cahyani Soerjosoebandoro alias Tata Cahyani, ketika itu sempat menghebohkan publik. Digelar pada 30 April 1997 di Pendopo Agung Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), saat Soeharto masih menjabat sebagai kepala negara dan Ibu Tien Soeharto masih hidup.
Resepsi pernikahan itu menjadi sorotan karena kemegahannya serta status Tommy sebagai putra bungsu Presiden RI saat itu. Sejumlah media menyebut, Tata Cahyani tercatat sebagai satu-satunya istri Tommy yang pernikahannya didaftarkan di Kantor Urusan Agama (KUA) dan mendapat restu penuh dari keluarga Cendana. Dalam pernikahan tersebut, Tata tampil anggun mengenakan busana pengantin adat Jawa Solo, yang menuai banyak pujian dari masyarakat.
Tata Cahyani lahir di Jakarta pada 2 April 1975. Ia merupakan putri sulung dari tiga bersaudara, anak dari RM Bambang Soetjahjo Adji Soerjosoebandoro. Sejak usia lima tahun, Tata mengikuti sang ayah yang bekerja di Singapura sebagai agen PT Adhika Admiral Line. Karena itu, pendidikan Tata ditempuh di luar negeri sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ia menyelesaikan pendidikannya di Universitas New South Wales, Sydney, Australia, dengan jurusan pertamanan atau landscaping.
Kala itu, pernikahan Tommy dengan Tata disaksikan sejumlah pejabat tinggi negara. Di antaranya Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala BPPT BJ Habibie serta Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Ginandjar Kartasasmita. Nama Tata Cahyani pun semakin dikenal publik setelah resmi menjadi bagian dari keluarga Presiden Soeharto.
Namun, kebahagiaan rumah tangga tersebut tidak berlangsung lama. Setelah Soeharto lengser dari kursi kekuasaan, posisi Tommy berada dalam tekanan besar. Puncaknya, Tommy dijatuhi hukuman 15 tahun penjara setelah dinyatakan terbukti terlibat dalam pembunuhan hakim Syafiuddin Kartasasmita, yang sebelumnya memvonisnya dalam perkara tukar guling tanah Bulog dengan PT Goro.
Pada 13 April 2006, Tata Cahyani mengajukan gugatan cerai terhadap Tommy Soeharto di Pengadilan Agama Jakarta Selatan dengan nomor perkara 467/Pdt.G/2006/PAJS. Dalam gugatan tersebut, Tata juga menuntut hak asuh atas dua anak mereka, yakni Darma Mangkuluhur Hutomo dan Radhyana Gayanti Hutami.
Pasca perceraian, Tata Cahyani memilih meninggalkan Indonesia dan menetap di Singapura bersama kedua anaknya. Dalam sebuah kesempatan seperti dikutip sejumlah media, saat itu Tata Cahyani menyampaikan bahwa kepergiannya ke Singapura dilakukan demi keselamatan dirinya dan kedua anaknya.
Dia mengaku menghadapi kesulitan membesarkan anak-anaknya di negeri tersebut, namun tetap memilih menetap di sana. Tata juga menegaskan bahwa keluarganya, termasuk keluarga Cendana, mengetahui keberangkatannya ke Singapura dan bahwa keputusannya bukanlah bentuk pelarian.
Tata Cahyani juga menjelaskan bahwa perceraian dengan Tommy sengaja tidak diumumkan secara luas kepada publik. Sebab, dia meyakini perceraian merupakan urusan pribadi. Berbeda dengan pernikahan yang perlu diumumkan, perceraian tidak harus diketahui banyak orang.
Setelah resmi berpisah dari Tommy Soeharto, Tata Cahyani diketahui menjalin hubungan dengan Bobby Tonelly dan melanjutkan kehidupannya di Singapura, jauh dari sorotan publik Indonesia yang dahulu begitu intens mengiringi perjalanan hidupnya. (*)








