KabarBaik.co, Situbondo — Dua warga Kecamatan Jatibanteng dilaporkan hilang terseret arus luapan sungai. Menanggapi eskalasi bencana ini, Pemerintah Kabupaten Situbondo resmi menaikkan status kebencanaan menjadi Tanggap Darurat.
Kejadian terjadi pasa Minggu (8/3), tim SAR gabungan bersama warga masih terus menyisir aliran sungai untuk mencari keberadaan dua korban, yakni: Tohari, 40 tahun, warga Desa Patemon, hilang saat sedang mencari rumput di sekitar bantaran sungai sebelum debit air meningkat drastis dan Jaelani, 40 tahun, warga Desa Sumberanyar hilang saat dalam perjalanan pulang dari ladang usai memanen jagung.
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio) menegaskan bahwa kenaikan status menjadi tanggap darurat diambil karena dampak kerusakan yang masif dan adanya korban jiwa.
“Saya kira levelnya harus kita naikkan ke tanggap darurat karena sudah membahayakan. Arusnya jauh lebih deras dibanding banjir 21 Januari lalu; banyak pohon tumbang, rumah, hingga pagar warga yang hancur,” ujar Rio, Selasa (10/3).
Kepala BPBD Situbondo Timbul Harjanto, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem ini memicu banjir dan angin kencang di delapan kecamatan, meliputi Kecamatan Banyuglugur, Besuki, Jatibanteng, Mlandingan, Bungatan, Kendit, Situbondo dan Suboh.
Saat ini, Pemkab Situbondo telah melakukan sejumlah langkah strategis seperti pendirian dapur umum dan penyaluran bantuan dari TRC BPBD Jawa Timur serta SPPG wilayah barat, Evakuasi dan pencarian.
Warga diimbau untuk tetap waspada mengingat curah hujan di wilayah Jawa Timur diprediksi masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. (*)






