Status Diperebutkan: Eksotika Pulau Es Greenland di Ujung Dunia dalam Jejak Manusia Purba

oleh -75 Dilihat
GREENLAND
Greenland (Foto IST/Guide to Greenland)

KabarBaik.coGreenland, pulau terbesar di dunia yang merupakan wilayah otonom Denmark, kembali menjadi sorotan internasional setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai wilayah tersebut. Trump menyebut penguasaan Greenland sebagai sesuatu yang “imperatif bagi keamanan nasional dan dunia.” Bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Pernyataan tersebut memicu ketegangan global. Beberapa negara NATO mengirimkan pasukan ke Greenland. Sedangkan Trump mengancam akan memberlakukan tarif 10 persen terhadap Denmark dan sejumlah negara Eropa lain yang menentang rencananya. Langkah ini mengguncang pasar saham AS. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menegaskan bahwa “Eropa tidak akan diperas.”

Greenland terletak di antara Kanada dan Islandia, dengan sekitar 80 persen wilayahnya tertutup es dan salju. Meski luasnya lebih besar dari Meksiko, jumlah penduduknya hanya sekitar 56.000 jiwa. Lebih sedikit dari populasi kota kecil di Amerika Serikat. Sekitar 90 persen penduduknya adalah Inuit, dengan bahasa resmi Kalaallisut (bahasa Greenland), meski bahasa Denmark juga digunakan.

Wilayah ini memiliki sejarah panjang. Manusia pertama tiba lebih dari 4.000 tahun lalu, disusul oleh bangsa Thule, leluhur Inuit modern. Viking pernah menetap di sana pada abad ke-10 sebelum akhirnya punah. Denmark mulai menjajah Greenland secara resmi pada 1721 dan mempertahankan status koloninya hingga 1953. Sejak 1979, Greenland memiliki pemerintahan sendiri, meski urusan pertahanan dan luar negeri masih berada di tangan Denmark.

Secara ekonomi, Greenland sangat bergantung pada industri perikanan dan subsidi tahunan dari Denmark. Namun, perubahan iklim dan pembukaan bandara internasional baru, termasuk penerbangan langsung dari New York ke Nuuk sejak 2025, mendorong pertumbuhan pariwisata dan membuka peluang ekonomi baru.

Greenland juga kaya akan sumber daya alam seperti mineral tanah jarang, uranium, emas, minyak, dan gas. Meski demikian, rencana eksploitasi sumber daya ini memicu perdebatan sengit. Penduduk khawatir pertambangan akan merusak lingkungan, mengancam industri perikanan, dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Di tengah modernisasi, masyarakat Greenland berupaya melestarikan budaya mereka. Dari seni ukir, perhiasan, busana tradisional, hingga kuliner berbasis hasil laut dan daging liar. Kehidupan di luar kota besar seperti Nuuk masih sangat bergantung pada alam, dengan transportasi menggunakan perahu, kereta anjing, atau helikopter karena tidak adanya jaringan jalan antarkota.

Sebagian besar penduduk Greenland mendukung kemerdekaan penuh dari Denmark. Namun, kekhawatiran muncul bahwa jika merdeka, Greenland justru akan jatuh ke dalam pengaruh Amerika Serikat. Survei menunjukkan sekitar 85 persen warga Greenland dilaporkan menolak menjadi bagian dari AS.

Bagi masyarakatnya, Greenland bukan sekadar wilayah strategis atau sumber daya alam. Wilayah itu adalah rumah, identitas, dan warisan budaya yang ingin mereka jaga tetap Greenlandic—bukan milik kekuatan besar mana pun.

Era Baru Pariwisata Berkelanjutan

Dilansir dari sejumlag literature, Greenland mengundang masyarakat global untuk menjelajahi bentang alamnya yang menakjubkan, kekayaan budaya Inuit, serta pengalaman khas Arktik yang unik. Tahun 2025 lalu, Greenland memasuki babak baru dalam pengembangan pariwisata dengan menekankan prinsip keberlanjutan, keterlibatan masyarakat lokal, dan penceritaan budaya yang autentik.

Mulai dari wisata mengamati paus hingga tur berpemandu ke permukiman terpencil, Greenland menawarkan pengalaman tak terlupakan bagi para pelancong yang ingin menjelajahi destinasi luar biasa ini.

Salah satu perkembangan paling penting dalam sektor pariwisata Greenland adalah dibukanya bandara internasional Nuuk pada November 2024. Peningkatan infrastruktur ini secara signifikan memperbaiki aksesibilitas bagi wisatawan internasional. Kini, telah tersedia penerbangan langsung dari Newark, New Jersey, ke ibu kota Greenland, Nuuk, tanpa harus transit di Islandia atau Denmark.

Rute penerbangan langsung ini menjadi tonggak sejarah bagi industri pariwisata Greenland. Sebab, untuk kali pertama wisatawan asal AS dapat mencapai pulau tersebut dengan lebih mudah dan cepat.

Visit Greenland, badan pariwisata nasional, menyebutkan bahwa keberadaan bandara internasional ini diperkirakan akan hampir menggandakan kapasitas kursi penerbangan pada musim puncak, dari sekitar 55.000 kursi pada 2023 menjadi 105.000 kursi pada 2025. Peningkatan ini diyakini akan menarik lebih banyak wisatawan internasional yang ingin menikmati keindahan alam dan warisan budaya Greenland, sekaligus memperkuat posisinya sebagai destinasi ekowisata unggulan.

Greenland dikenal dengan lanskap yang liar, fjord yang dramatis, serta kehidupan satwa liar yang masih sangat alami. Salah satu aktivitas paling populer adalah wisata mengamati paus, di mana pengunjung dapat melihat langsung paus bungkuk dan paus minke di habitat alaminya.

Selain itu, Greenland juga menjadi rumah bagi koloni burung puffin yang besar, terutama di pulau kecil Niaqornaarsuk. Keberadaan burung laut ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengamat burung. Bagi wisatawan yang tertarik pada budaya dan tradisi masyarakat Inuit, tersedia tur berpemandu ke permukiman terpencil yang menawarkan pengalaman mendalam tentang kehidupan masyarakat lokal di wilayah Arktik.

Pariwisata kini menjadi penggerak penting perekonomian Greenland. Pada 2024, sektor ini menyumbang sekitar 1,245 miliar kroner Denmark (DKK) terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyediakan lebih dari 1.800 lapangan kerja langsung. Secara keseluruhan, pariwisata menyumbang hampir 5 persen PDB nasional dan lebih dari 6 persen total lapangan kerja.

Manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya dirasakan di Nuuk, tetapi juga oleh komunitas-komunitas kecil di wilayah terpencil. Dari pemandu wisata hingga perajin lokal, banyak usaha kecil yang bergantung pada kunjungan wisatawan. Dengan meningkatnya akses penerbangan, peluang penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat diperkirakan akan terus bertambah.

Seiring pertumbuhan industri pariwisata, Greenland juga menghadapi tantangan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Pemerintah dan pelaku usaha pariwisata menerapkan berbagai kebijakan untuk memastikan pertumbuhan tidak merusak alam dan budaya setempat. Aturan zonasi diterapkan untuk melindungi wilayah sensitif, sementara operator tur diwajibkan mematuhi standar keberlanjutan yang ketat.

Langkah-langkah tersebut bertujuan menjaga ekosistem Arktik yang rapuh serta memastikan manfaat pariwisata dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat lokal.

Visi Pariwisata Greenland 2035

Visit Greenland telah menyusun peta jalan pengembangan pariwisata hingga 2035. Targetnya antara lain menggandakan jumlah wisatawan, meningkatkan pendapatan per pengunjung, serta memastikan manfaat pariwisata dirasakan di seluruh wilayah Greenland. Salah satu sasaran utama adalah mencapai tingkat pemanfaatan infrastruktur pariwisata sepanjang tahun hingga 75 persen dan memastikan seluruh pelaku industri menerapkan praktik keberlanjutan secara formal.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk mengembangkan pariwisata yang menghormati budaya masyarakat Inuit, dengan melibatkan komunitas lokal dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.

Popularitas Greenland turut terdongkrak oleh perhatian global yang muncul setelah mantan Presiden AS Donald Trump pada 2019 sempat mengusulkan pembelian Greenland dari Denmark. Meski usulan tersebut ditolak, sorotan media internasional justru membuat Greenland semakin dikenal dunia.

Menurut Casper Frank Møller, CEO perusahaan tur Raw Arctic dikutip dari sebuah media asing, peristiwa tersebut membuat Greenland semakin dikenal sebagai destinasi wisata unik dan eksotis di mata dunia.

Dengan akses penerbangan yang semakin mudah, kekayaan alam yang luar biasa, serta komitmen kuat terhadap pariwisata berkelanjutan, Greenland berada di ambang ledakan pariwisata. Pulau ini menawarkan pengalaman perjalanan yang tidak hanya indah, tetapi juga bermakna dan bertanggung jawab. (*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.