KabarBaik.co – Penolakan warga terhadap pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mencuat di Desa Sidorejo, Krian, Sidoarjo. Warga melakukan protes karena lapangan desa yang selama ini menjadi ruang publik dijadikan lokasi pembangunan koperasi.
Aksi penolakan itu ditunjukkan warga dengan memasang spanduk di pintu masuk lapangan desa, Minggu (11/1). Spanduk bertuliskan ‘#masyarakat peduli desa, kembalikan lapangan Sidorejo seperti semula’ menjadi simbol penolakan atas alih fungsi lapangan.
Warga menilai pembangunan KDMP dilakukan tanpa melibatkan masyarakat. Mereka mengaku tidak pernah diajak bermusyawarah sebelum proyek berjalan. Kondisi tersebut memicu kekecewaan karena lapangan desa masih aktif digunakan.
Ketua RT 28 Dusun Madubronto, Desa Sidorejo Edy Santoso mengatakan warga mempertanyakan kedatangan material bangunan yang tiba-tiba masuk ke lapangan.
“Warga tanya ke saya ini pembangunan apa. Material datang, tapi tidak ada penjelasan. Saya juga tidak tahu,” ujarnya, Minggu (11/1).
Edy mengaku telah mencoba meminta kejelasan kepada aparat di lapangan. Namun, jawaban yang diterima tidak memberikan kepastian.
“Saya tanya ke Babinsa, jawabannya juga tidak tahu. Katanya perintah Pak Kades dibangun di sini,” ungkapnya.
Menurut Edy, tidak ada musyawarah desa yang melibatkan warga secara langsung. Meski disebut ada Musdes, proses tersebut hanya melibatkan lembaga desa tanpa mengikutsertakan RT dan RW.
“Saya sebagai RT tidak pernah diajak, RW juga tidak. Semua RT dan RW se-Desa Sidorejo tidak dilibatkan,” tegasnya.
Pembangunan KDMP diketahui telah berjalan hampir satu bulan. Warga mulai menunjukkan penolakan sejak Jumat malam (9/1) dengan memasang spanduk. Namun spanduk tersebut sempat dicopot oleh pihak desa keesokan harinya.
Lapangan desa yang kini dipersoalkan selama ini menjadi pusat aktivitas warga. Selain digunakan sebagai lapangan sepak bola, lokasi tersebut juga menjadi tempat berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Edy menegaskan warga bukan menolak program Koperasi Desa Merah Putih. Namun mereka menolak jika pembangunan dilakukan di atas lapangan desa yang masih aktif digunakan.
“Warga sebenarnya mendukung KDMP. Tapi menolak kalau lapangan desa dialihfungsikan dan tidak ada sosialisasi ke masyarakat,” tandasnya.
Warga pun berharap lapangan desa dikembalikan ke fungsi semula sebagai fasilitas umum dan ruang publik. (*)






