KabarBaik.co, Surabaya– Kota Surabaya berduka sedalam-dalamnya atas kepergian Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono. Prosesi pemakaman sosok yang akrab disapa Awi tersebut berlangsung penuh haru di Taman Pemakaman Umum (TPU) Keputih, Kamis (12/2).
Pantauan di lokasi, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tidak dapat menyembunyikan rasa kehilangan yang mendalam. Mengenakan batik berwarna ungu, Eri berdiri mematung dengan tatapan kosong saat melihat peti jenazah sahabat sekaligus mitra kerjanya itu perlahan ditimbun tanah.
Diiringi doa umat Katolik, Eri sesekali tampak mendekapkan kedua tangan dan mengusap hidungnya, seolah menahan air mata yang terus mengalir sepanjang prosesi.
Pemakaman ini dihadiri oleh ribuan pelayat yang memadati area TPU Keputih. Tidak hanya pejabat pemerintah, masyarakat umum pun datang berbondong-bondong untuk memberikan penghormatan terakhir.
Meski dikenal sebagai kader militan PDI Perjuangan, kehadiran tokoh-tokoh lintas partai politik menunjukkan betapa Awi sangat dihormati. Mantan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, juga terlihat hadir di barisan pelayat.
Sebelum diberangkatkan ke TPU Keputih, jenazah sempat disemayamkan di Rumah Duka Grand Heaven Surabaya. Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasinya di jalur legislatif. Kenazah juga dibawa ke Kantor DPRD Surabaya di Jalan Yos Sudarso untuk prosesi penghormatan formal.

Sosok Penjaga Persatuan
Duka mendalam juga dirasakan oleh lawan politiknya. Ketua DPC Gerindra Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso, menyatakan bahwa Surabaya kehilangan salah satu pejuang politik terbaiknya.
“Atas nama pribadi maupun keluarga besar Partai Gerindra Kota Surabaya, kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Beliau adalah tokoh luar biasa,” ujar Cahyo.
Cahyo mengenang Cak Awi sebagai sosok yang mampu menjembatani perbedaan. “Meski kami sering berbeda pandangan politik, beliau selalu menjaga persatuan dan kesatuan. Beliau melihat perbedaan pendapat sebagai kekayaan demokrasi. Kami memiliki pandangan yang sama jika sudah menyangkut kepentingan masyarakat Surabaya,” tambahnya.
Adi Sutarwijono lahir di Blitar pada 4 Agustus 1968. Alumnus FISIP Universitas Airlangga dan mantan jurnalis Harian Surya ini dikenal sebagai politisi yang sederhana namun visioner dalam membangun Kota Pahlawan. Adi Sutarwijono menghembuskan napas terakhir di Jakarta pada Selasa malam, 10 Februari 2026, pukul 20.36 WIB setelah berjuang melawan kanker yang dideritanya. (*)






