KabarBaik.co – Ketua Perhimpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Fatwir, menyatakan bahwa sektor pariwisata NTB masih menghadapi persoalan serius, khususnya kekurangan pramuwisata (guide) spesialis bahasa asing tertentu.
Menurut Fatwir, saat ini pramuwisata di NTB masih didominasi oleh guide yang menguasai bahasa Inggris umum dan bahasa Indonesia. Namun, guide yang memiliki kemampuan bahasa dari negara-negara tertentu masih sangat terbatas, padahal NTB kini telah menjadi tujuan wisatawan dari berbagai belahan dunia.
“Di NTB ini kita masih banyak kekurangan guide yang spesialis. Kalau bahasa Inggris cukup banyak, domestik juga ada. Tapi pramuwisata itu tidak hanya sekadar bisa berbahasa, menjadi guide itu tidak gampang,” tegas Fatwir, Kamis (1/8).
Ia menyebutkan, pramuwisata yang menguasai bahasa Korea, Spanyol, dan Jerman jumlahnya masih sangat minim. Bahkan untuk bahasa Mandarin dan Rusia, NTB hanya memiliki segelintir guide, dengan guide berbahasa Rusia tercatat hanya dua orang.
Kondisi ini, lanjut Fatwir, harus menjadi perhatian serius semua pihak, mengingat NTB sudah mulai menerima wisatawan dari hampir seluruh dunia dengan latar belakang bahasa dan budaya yang beragam.
“Pelayanan adalah kunci. Kalau tamu datang dan mendapatkan pelayanan yang mengecewakan, dia tidak akan datang lagi. Pariwisata itu harus berkelanjutan,” ujarnya.
Fatwir juga menilai profesi pramuwisata merupakan pekerjaan yang layak dan menjanjikan, khususnya bagi generasi muda. Ia mendorong anak-anak muda NTB untuk melihat dunia pramuwisata sebagai peluang masa depan yang dapat menjadi sumber penghidupan yang baik.
“Kalau generasi berikutnya mau belajar dan menekuni ini, pramuwisata itu masa depan, penghidupannya juga sangat layak,” tandasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Fatwir berharap adanya kolaborasi antara pemerintah dan lembaga non-pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.
“Saya melihat ini harus dikerjakan bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga lembaga-lembaga non-pemerintah harus ikut meningkatkan kemampuan sumber daya manusia pariwisata,” katanya.
Ia menegaskan, peningkatan kompetensi SDM pariwisata harus disesuaikan dengan bidang masing-masing, karena pelayanan terhadap tamu menjadi faktor paling menentukan dalam citra dan keberlanjutan pariwisata NTB.(*)






