KabarBaik.co – Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menetapkan tarif 0 persen untuk produk impor dari empat negara Asia—Kamboja, Malaysia, Vietnam, dan Thailand—mendapat perhatian serius dari pelaku usaha di Indonesia. Kebijakan ini dinilai tidak hanya berimplikasi ekonomi, tetapi juga memuat kepentingan geopolitik yang dapat mengubah arah rantai pasok global di kawasan Asia Tenggara.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan dan Promosi Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Prof. Tommy Kayhatu, menekankan bahwa kebijakan tersebut merupakan strategi AS dalam memperkuat pengaruhnya di Asia.
“Tarif 0 persen ini bukan semata fasilitas dagang, tetapi menjadi soft power Amerika untuk menahan ekspansi ekonomi Tiongkok,” ujar Tommy dalam Talkshow bertema Free Trade atau Political Trap? Membaca Peluang Investasi di Balik Kebijakan Tarif 0 persen dan Pengaruhnya di Jawa Timur 2025, Selasa (25/11).
Menurutnya, fasilitas tarif diberikan secara selektif berbasis kepentingan strategis Amerika, termasuk akses terhadap cadangan rare earth di negara penerima yang sangat dibutuhkan untuk industri kendaraan listrik hingga pertahanan.
Tommy menjelaskan, posisi Indonesia berbeda dengan empat negara tersebut. Tingkat ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap AS relatif rendah, sementara hubungan perdagangan dengan blok BRICS dan Tiongkok semakin kuat. Karena itu, ia menilai Indonesia tidak menjadi sasaran utama kebijakan ini.
“Indonesia harus memanfaatkan peluang tanpa kehilangan independensi politik maupun ekonomi,” tegasnya. Ia juga melihat potensi efek limpahan (spillover effect) bagi Indonesia, khususnya dalam rantai pasok regional.
Jawa Timur diprediksi menjadi pusat pergerakan logistik ASEAN karena kekuatan sektor manufaktur, pertanian olahan, hingga industri pangan.
Wakil Ketua Umum Bidang Migas Kadin Jatim, Tri Prakoso, mengingatkan bahwa kebijakan tarif 0% juga menyimpan risiko besar bila tidak diantisipasi.
Ketergantungan impor, banjir produk asing, dan lemahnya daya saing industri lokal bisa menjadi ancaman bagi perekonomian nasional. “Kebijakan tarif nol baru menguntungkan jika negara siap dengan strategi industrialisasi dan ketahanan ekonomi,” ujarnya.
Para narasumber sepakat bahwa Indonesia mesti memperkuat ekspor bernilai tambah, meningkatkan penguasaan teknologi industri, serta memperkokoh integrasi rantai pasok regional. Jawa Timur disebut memiliki posisi strategis untuk menarik investasi global secara berimbang, baik dari AS, Eropa, Jepang, maupun Tiongkok.
Wakil Ketua Kadin Surabaya, Medy Prakoso, menilai kebijakan tarif 0 persen tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap kinerja ekspor Indonesia, termasuk Jawa Timur.
“Produk pertanian kita relatif memiliki musim panen yang sama dengan Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Namun Indonesia masih unggul pada komoditas perkebunan, seperti karet, serta produk handycraft dan furnitur yang tetap menjadi favorit pasar Amerika,” jelasnya.
Ia menambahkan, Amerika memang menjadi pasar penting, namun bukan yang terbesar. Kontribusi ekspor Indonesia ke AS pada tahun ini sebesar 12,29 persen, masih lebih rendah dibanding ekspor ke Tiongkok yang mencapai 12,40 persen serta Swiss sebesar 17,83 persen.
“Saya yakin ekspor Indonesia tetap kuat. Kebijakan ini justru bisa membuat kita semakin agresif memperluas pasar global,” ujarnya optimistis.
Ketua Komite Tetap Perdagangan dan Jasa Luar Negeri Kadin Jatim, Fernanda Reza, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 16 perjanjian perdagangan bebas yang masih dalam proses finalisasi dan sebagian menunggu legislasi DPR. Sementara, 18 perjanjian telah diimplementasikan dan dua lainnya dalam proses ratifikasi.
“Negosiasi perjanjian perdagangan bebas memang membutuhkan waktu panjang, rata-rata hingga 15 tahun,” pungkasnya.






