KabarBaik.co – Semangat kolaborasi menyelimuti kawasan pesisir Surabaya. Guna memastikan keberlanjutan ekonomi nelayan lokal, PT Terminal Teluk Lamong (TTL) memfasilitasi kegiatan sharing session antara dua kelompok pembudidaya ikan untuk mendalami teknik budidaya kepiting soka yang lebih efektif.
Kegiatan ini mempertemukan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Kalitangi Asri Romokalisari dengan Kelompok Nelayan Nambangan Perak. Pertemuan ini merupakan langkah konkret lanjutan setelah sebelumnya Kelompok Nelayan Nambangan Perak melakukan studi banding (benchmarking) ke Romokalisari pada Desember 2025 lalu.
Ketua Pokdakan Kalitangi Asri, Amin, turun langsung membagikan rahasia sukses budidaya kepiting cangkang lunak tersebut. Fokus utama diskusi kali ini adalah sistem filtrasi air—sebuah elemen krusial yang sering menjadi kendala operasional bagi para pembudidaya pemula.
“Kami hadir untuk berbagi strategi optimalisasi budidaya. Harapannya, teman-teman di Nambangan Perak bisa meningkatkan produktivitas dan mencapai hasil panen yang lebih maksimal,” ujar Amin di sela-sela kegiatan, Selasa (13/1).
Gayung bersambut, Sukron selaku Ketua Program Budidaya Kepiting Soka KUB Bintang Laut (Kelompok Nelayan Nambangan Perak), menegaskan bahwa transfer pengetahuan ini adalah kunci kemandirian. Menurutnya, penguatan kapasitas teknis sangat dibutuhkan agar usaha budidaya di wilayahnya tidak hanya berjalan sebentar, tetapi tumbuh berkelanjutan.
Dukungan penuh dari PT Terminal Teluk Lamong dalam kegiatan ini merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Perusahaan memandang sinergi antar-kelompok nelayan sebagai fondasi kuat bagi ekonomi pesisir.
Manager Komunikasi Korporasi PT Terminal Teluk Lamong, Dahlia Permata Sari, menjelaskan bahwa TTL berkomitmen untuk terus menjadi jembatan bagi pemberdayaan masyarakat.
“Kami percaya bahwa sinergi seperti ini akan menciptakan ekosistem usaha yang lebih kuat dan berdaya saing. TTL akan terus mendampingi agar program ini mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal secara inklusif,” tutur Dahlia.
Melalui transfer ilmu ini, diharapkan kualitas kepiting soka hasil produksi nelayan Surabaya semakin meningkat. Lebih dari sekadar urusan ekonomi, program ini juga menjadi upaya bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir demi masa depan yang lebih baik.







