Terobosan Pembatik Perempuan Kota Batu, Batik Batoga Siap Hadirkan Produk Terjangkau untuk Wisatawan

oleh -190 Dilihat
Dwi Harini dan batik Batoga produksinya. (Foto: P. Priyono)

KabarBaik.co – Kota Wisata Batu tidak hanya menyuguhkan pesona alam dan destinasi rekreasi, tetapi juga melahirkan sosok-sosok perempuan tangguh yang berinovasi di sektor ekonomi kreatif. Salah satunya Dwi Harining (50), pembatik asal Kota Batu yang melalui Batik Batoga terus menghadirkan terobosan agar batik khas daerah semakin dekat dengan masyarakat dan wisatawan.

Berlokasi strategis tepat di depan Alun-alun Kota Batu, Jalan Diponegoro, Kecamatan Batu, outlet Batik Batoga menjadi etalase batik khas daerah yang mudah dijangkau pengunjung. Keberadaannya di jantung kota menjadikan batik bukan sekadar produk budaya, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata.

Saat ini, Batik Batoga tengah kebanjiran pesanan batik tulis dari Kota Malang. Pesanan tersebut berupa batik warna sogan motif anggrek berukuran 2,5 meter dengan harga satuan Rp750 ribu, menunjukkan kualitas karya batik tulis perempuan Kota Batu mampu bersaing di pasar regional.

“Alhamdulillah, usaha batik ini sudah hampir sembilan tahun saya jalani. Semoga terus berjalan lancar dan bisa memberi kontribusi nyata bagi penguatan UMKM,” ujar Dwi Harining, Senin (22/12).

Tak berhenti pada produksi batik tulis bernilai tinggi, Dwi kini menyiapkan terobosan baru agar batik khas Kota Batu bisa dinikmati lebih luas. Ia menyadari masih adanya anggapan bahwa harga batik relatif mahal, terutama bagi wisatawan yang ingin membeli oleh-oleh. “Sebagai kota wisata, batik harus bisa dijangkau. Maka kita perlu strategi agar harga tetap terjangkau tanpa mengurangi kualitas,” ucapnya.

Terobosan tersebut dilakukan dengan mengefisienkan bahan dan mengembangkan produk turunan batik. Ke depan, Batik Batoga berencana memproduksi kemeja batik dengan harga di bawah Rp100 ribu, sehingga wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu dapat membawa pulang batik khas daerah sebagai buah tangan.

“Kita harus berani melangkah dan membaca pasar. Bukan hanya bisa membuat batik, tetapi juga mampu menjualnya. Dengan begitu potensi produk khas Batu bisa meningkat,” tegasnya.

Dwi juga menilai dukungan pemerintah daerah terhadap pembatik perempuan sudah cukup baik, namun ia berharap adanya wadah bersama agar para pembatik di Kota Batu dapat bergerak selaras dan saling menguatkan. “Perhatian dari pemerintah sudah ada. Ke depan, pembatik perlu lebih kompak agar tidak terjadi kesenjangan harga dan UMKM batik bisa tumbuh bersama,” bebernya.

Sebagai identitas, Batik Batoga memiliki ciri khas kuat melalui motif empon-empon, seperti kunyit dan serai, yang menjadi simbol kekayaan alam dan kearifan lokal Kota Batu. Dengan inovasi dan keberanian mengambil langkah baru, Dwi Harining menjadi contoh nyata pembatik perempuan Kota Batu yang mampu beradaptasi, berdaya saing, dan menjadikan batik sebagai produk unggulan sekaligus oleh-oleh khas daerah wisata. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.