DI ERA digital, batas rumah tak lagi berhenti di pagar. Satu video, satu unggahan, bisa menjalar ke seluruh negeri dalam hitungan menit. Konflik kecil di lingkungan, bisa tiba-tiba menjadi perbincangan nasional. Itulah yang terjadi pada kisah dua warga di Malang Yakni, Imam Muslimin atau akrab dipanggil Yai Mim, mantan dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dengan tetangganya Nurul Sahara (pemilik usaha rental mobil dan mahasiswi doktor UB).
Awalnya, masalah sederhana. Soal lahan, parkir, dan perbedaan pandangan. Namun, ketika emosi bertemu kamera, dan kamera bertemu internet, konflik pribadi berubah menjadi konsumsi publik. Komentar pun datang berbondong-bondong. Dari yang simpatik hingga menghujat kelas dewa tanpa tahu duduk persoalan.
Fenomena ini lagi-lagi menjadi alarm keras. Mengingatkan kita bahwa era media sosial menuntut tanggung jawab baru dalam bertetangga. Dulu, masalah antarwarga bisa selesai di warung kopi atau RT. Kini, satu postingan bisa memicu ribuan opini, bahkan tekanan sosial. Padahal, kunci harmoni tetap sama: Musyawarah, bicara baik-baik, bukan viralkan.
Setidaknya, ada tiga pelajaran penting dari kisah ini. Pertama, jangan bawa persoalan pribadi ke ruang publik. Setiap rumah mempunyai cerita, tapi tidak semua pantas jadi konten. Mengunggah video tetangga tanpa izin bisa dianggap pelanggaran privasi. Undang-Undang (UU) ITE juga melindungi setiap warga dari fitnah dan pencemaran nama baik di dunia maya.
Kedua, pahami peran media sosial sebagai alat, bukan senjata. Medsos bisa jadi ruang klarifikasi, tapi juga bisa jadi tempat membakar emosi. Sebelum menulis, tanyakan tiga hal: Apakah benar? Apakah perlu? Apakah bermanfaat? Jika jawabannya tidak, lebih baik diam.
Ketiga, pentingnya mediasi dan empati. Setiap masalah bisa diselesaikan lewat komunikasi, bukan konfrontasi. RT, RW, atau tokoh masyarakat seharusnya jadi jembatan, bukan penonton. Saling maaf jauh lebih bijak daripada saling lapor.
Kasus Yai Mim dan Sahara bukan sekadar drama viral. Ini cermin bagi kita semua. Bahwa hidup bertetangga memerlukan sabar, tenggang rasa, dan kemampuan menahan diri. Terutama di depan kamera. Mari kita jadikan kisah ini bukan bahan gosip, tapi bahan belajar. Merenung dalam-dalam. Karena di balik setiap konflik, selalu ada ruang untuk memperbaiki diri dan memperkuat solidaritas antarwarga.
Kami percaya, dunia digital yang sehat dimulai dari lingkungan yang damai. Bijak di media sosial, dan jadilah sumber kabar baik. Dan itu dimulai dari rumah sendiri. (*)







