KabarBaiki.co, Gresik – Peringatan Nuzulul Quran dan tradisi Takhtimul Kutub di Pondok Pesantren (PP) Al Karimi Tebuwung, Kecamatan Dukun, Gresik, berlangsung semarak pada Selasa (10/3) malam. Ratusan santri mengikuti rangkaian kegiatan religius tersebut dengan khidmat sebagai penanda berakhirnya program ngaji kitab selama bulan Ramadan.
Pengasuh PP Al Karimi, KH Abdul Muhshi MPdI, menyampaikan bahwa agenda ini merupakan puncak dari rangkaian panjang ngaji ‘kitab kuning” yang dimulai sejak awal Ramadan 1447 H. Selama Ramadan, para santri mendalami berbagai disiplin ilmu mulai tauhid hingga fikih dari pagi hingga malam.
”Mudah-mudahan ilmu yang didapat memberikan manfaat dan keberkahan,” ujar Kiai Muhshi dalam sambutannya.
Setelah mengikuti prosesi Takhtimul Kutub, para santri dijadwalkan kembali ke kampung halaman masing-masing untuk menikmati libur akhir Ramadan dan Idulfitri. Dalam kesempatan tersebut, Kiai Muhshi memberikan pesan mendalam agar para santri tetap menjaga jati diri mereka di rumah.
Beliau mewanti-wanti agar pembiasaan baik selama di pesantren, seperti salat berjamaah, mengaji, dan belajar, tetap dijaga. “Jangan banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, seperti terlalu lama bermain gadget atau keluyuran yang tidak penting. Bantulah orang tua dan lakukan kegiatan positif lainnya,” tegasnya.
Acara malam itu juga dimeriahkan dengan salawat serta seni tilawah massal. PP Al Karimi memang dikenal memiliki keunggulan di bidang seni religi, khususnya qasidah modern dan tilawatil Quran, dengan torehan banyak prestasi baik di tingkat Jawa Timur maupun nasional. Karena itu, tidak sedikit lembaga lain yang studi banding.
Hal menarik lain dari tradisi Takhtimul Kulub di PP Al Karimi adalah hadirnya sesi berbagi (sharing session) bersama alumni. Kali ini, panitia menghadirkan HM. Sholahuddin, S.Si., M.PSDM., alumni SMP Al Karimi angkatan 1989 yang kini menjabat Komisioner Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur dan merupakan mantan jurnalis senior Jawa Pos.
Dalam motivasinya, Sholahuddin menekankan bahwa status santri adalah sebuah “kemewahan” dan keistimewaan yang tidak didapatkan semua orang. Dia pun menceritakan bagaimana kekuatan keberkahan santri itu. “Secara logika mungkin sulit diterima, tapi keberkahan itu sungguh nyata. Saya ini orang pelosoi desa, dulu juga tidak paling pinter, bahasa Inggris juga jujur tidak jago. Tapi alhamdulillah berkat doa orang tua, keberkahan kiai, para guru, saya berkesempatan keliling ke hampir semua benua di dunia,” ceritanya dengan nada syukur.
“Mulai melihat teknologi dan pembuatan pesawat terbang termewah di Prancis, belajar digitalisasi di Korea, hingga mengunjungi industrialisasi hiburan di India, Hong Kong, Singpapura, Malaysia, dan banyak lagi secara gratis. Bahkan, juga mendapat panggilan haji ke Arab Saudi tanpa antre malah dapat saku,” ungkapnya di hadapan para santri.
Mengakhiri sesinya, Sholahuddin membagikan rumus “5P” untuk mengawal masa depan para santri. Yakni, passion (minat), persistence (ketekunan), patience (kesabaran), privilege (kesempatan) dan pray (doa. ”Dari kelima poin tersebut, kunci utamanya adalah doa. Sebab, bagaimanapun usaha kita, Tuhanlah yang menjadi penentu segalany. Jadi berbanggalah dan berbahagialah menjadi bagian dari santri,” pungkasnya. (*)






