KabarBaik.co- Jumlah korban bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, terus bertambah. Hingga Minggu, 7 Desember 2025, total korban meninggal dunia tercatat telah mencapai 916 jiwa. Data ini termuat dalam Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor BNPB untuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Selain korban meninggal, sebanyak 274 orang masih dinyatakan hilang, sementara lebih dari 4.200 orang mengalami luka-luka akibat bencana yang terjadi sejak akhir November lalu. Angka-angka tersebut terus diperbarui seiring proses pencarian dan evakuasi yang masih berlangsung di berbagai kabupaten/kota terdampak.
Di antara wilayah dengan jumlah korban jiwa tertinggi, Kabupaten Agam mencatat angka kematian terbanyak, disusul oleh Aceh Tamiang, Bener Meriah, Bireuen, hingga Kota Medan dan Kota Langsa. Rentetan banjir bandang, longsor besar, serta cuaca ekstrem di wilayah-wilayah ini membuat proses penyelamatan warga sangat menantang.
Kerusakan bangunan juga tercatat sangat masif. Sebanyak 105,9 ribu rumah dilaporkan rusak, mulai dari kategori ringan hingga berat. Total 52 kabupaten/kota dinyatakan terdampak dalam skala signifikan.
Di sektor fasilitas umum, lebih dari 1.300 rumah ibadah rusak, sementara 420 fasilitas lainnya turut terdampak. Infrastruktur kesehatan tidak luput dari kerusakan dengan 199 gedung atau kantor kesehatan rusak, serta 234 fasilitas lain yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan.
Di sektor pendidikan, kerusakan juga cukup besar. Tercatat 697 gedung pendidikan rusak, sedangkan sektor konektivitas wilayah terganggu akibat kerusakan 405 jembatan di berbagai titik.
Sementara itu, jumlah warga yang terpaksa mengungsi juga sangat besar. Kabupaten Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak, mencapai lebih dari 262 ribu jiwa. Bener Meriah dan beberapa wilayah lain seperti Tapanuli Tengah, Nagan Raya, serta Kota Sibolga turut melaporkan puluhan ribu warga yang mengungsi ke lokasi-lokasi aman.
Sejumlah warga di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menyaksikan bagaimana Divan mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sang ayah yang sakit stroke saat longsor melanda wilayah itu.
Korban bernama lengkap Divan Simangunsong (21), warga Perumahan Pandan Permai, Aek Matauli, Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan.
Salah satu tetangga korban, Pindo Pasaribu saat ditemui di lokasi kejadian, Sabtu, mengatakan bahwa longsor besar itu terjadi, Selasa (25/11) pukul 09.30 WIB setelah sebelumnya hujan deras mengguyur kawasan Pandan selama lima hari empat malam.
Remaja Tertimbun Usai Selamatkan Ayah Stroke
Sejumlah warga di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menyaksikan bagaimana Divan mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sang ayah yang sakit stroke saat longsor melanda wilayah itu.
Dilansir dari Antara, Korban bernama lengkap Divan Simangunsong, 21, warga Perumahan Pandan Permai, Aek Matauli, Sibuluan Indah, Kecamatan Pandan.
Salah satu tetangga korban, Pindo Pasaribu saat ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (6/11), mengatakan bahwa longsor besar itu terjadi, Selasa (25/11) pukul 09.30 WIB setelah sebelumnya hujan deras mengguyur kawasan Pandan selama lima hari empat malam.
Divan saat itu sempat menyelamatkan diri keluar dari rumah bersama keluarganya. Namun, kata Pindo, setelah keluarga aman, korban memutuskan masuk kembali untuk memastikan tidak ada perlengkapan milik sang ayah tertinggal di rumah.
Namun saat korban kembali masuk, longsor susulan yang lebih hebat membawa batang kayu dan bongkahan batu berdiameter hingga dua meter dari Bukit Aek Matauli itu langsung mengubur. “Warga sempat menarik dia, tapi kakinya jatuh ke selokan. Tidak ada waktu, bukit sudah runtuh lagi,” kata dia, seraya mengingat pesan terakhir Divan kepada orang tuanya sebelum berlari kembali ke arah rumah.
“Teriak dia pergilah bapak mamak (cari pengungsian aman) saya yang akan mencari kalian nanti,” ujar Pindo menirukan ucapan korban yang kini menjadi kenangan bagi keluarga dan kerabat.
Bagian sisi tenggara Bukit Aek Matauli itu pun runtuh, membawa bebatuan dan batang kayu besar hingga menimbun belasan rumah warga, dan meninggalkan jurang setinggi ratusan meter dengan kemiringan mencapai 45 derajat.
Kepala Kantor SAR Nias, Putu Arga Sujarwadi, melaporkan bahwa hingga Sabtu pagi jumlah korban meninggal dunia di Tapanuli Tengah mencapai 115 orang, korban selamat 594 orang, dan 169 orang masih dinyatakan hilang.
Tim petugas SAR gabungan hingga hari ke-12 ini terus mengintensifkan pencarian korban hilang, termasuk keberadaan jasad Divan dengan cara menggali material longsor yang diperkirakan berkedalaman lebih dari tujuh meter menggunakan ekskavator.
Adapun ayah dan ibu korban saat ini sudah dievakuasi ke pengungsian dalam pendampingan tim petugas gabungan, sementara adik perempuannya menjalani pemeriksaan medis di Kapal Bantu Rumah Sakit KRI dr. Radjiman. (*)








