KabarBaik.co – Tragedi ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, Senin (29/9), menelan banyak korban. Hingga pukul 01.00 WIB Selasa (30/9), tercatat lebih dari 80 santri menjadi korban dan masih dalam perawatan di sejumlah rumah sakit.
Kabar yang dihimpun KabarBaik.co, korban tersebar di RSUD Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya. Sebagian mengalami luka ringan, sebagian lainnya luka sedang hingga berat, dan ada pula yang meninggal dunia. Petugas gabungan dari Basarnas, BPBD, TNI-Polri, serta relawan masih terus melakukan evakuasi hingga malam hari.
Di RSUD Sidoarjo, terdapat 34 korban. Dari jumlah itu, 13 santri mengalami luka ringan di antaranya Salman, Felix asal Sepanjang, M. Ajam asal Gedangan, hingga Abdul Wahib Ramadani asal Surabaya.
Empat santri mengalami luka berat, termasuk M. Faris asal Surabaya dan Muhaimin asal Bangkalan. Sementara 17 lainnya masih dalam penanganan intensif pihak rumah sakit.
Sementara itu, di RSI Siti Hajar, tercatat 45 korban. Sebanyak 21 di antaranya mengalami luka ringan, mulai dari Rosman, Muhammad, hingga Miftakul Ulum. Sebanyak 22 korban lain mengalami luka sedang, di antaranya Saka, Rama, Rizky P, hingga Farid.
Satu santri bernama Furqon masuk kategori luka berat. Dan seorang santri bernama Alvian Ibrahim, 11 tahun, asal Bangkalan, Madura, dinyatakan meninggal dunia.
Korban juga dirawat di RS Delta Surya Sidoarjo dengan jumlah empat orang. Mereka adalah Bahrul Ulum, Ahmadi, Nabil, dan M. Nasih. Keempatnya kini masih dalam perawatan intensif.
Dengan demikian, total sementara korban dari tragedi ambruknya musala Ponpes Al Khoziny ini telah mencapai lebih dari 80 orang. Data ini masih bersifat sementara karena evakuasi terus berlangsung dan dikhawatirkan jumlah korban bisa bertambah.
Sebelumnya, musala Ponpes Al Khoziny ambruk saat momen para santri melaksanakan salat Ashar, Senin (28/9). KH. R. Abdus Salam selaku Pengasuh Pondok (Ponpes) Pesantren Al Khoziny menjelaskan bahwa pembangunan musala itu sudah berjalan sekitar 9-10 bulan. Bangunan tiga lantai tersebut memiliki hall di bagian atas yang digunakan untuk kegiatan santri.
“Ini lantai yang terakhir yang dikerjakan. Pengecoran sejak pagi sudah dilakukan 4 jam pengecoran sudah selesai siang tadi sudah selasai,” ujarnya pada awak media saat di lokasi, kemarin.
Usai tragedi tersebut, lpihak pondok memutuskan menghentikan sementara seluruh kegiatan pesantren hingga kondisi benar-benar aman.
“Kami anggap ini sebagai takdir dari Allah. Kami minta semua wali santri dan santri bersabar menunggu proses evakuasi. Semoga diberi ganti oleh Allah yang lebih baik, diberi pahala yang tak bisa diutarakan, dan semoga tidak banyak korban,” pungkas KH Abdus Salam.(*)







