Utang Rp 820 Juta Berujung Tragedi: Detik-Detik Pembunuhan Anak SD di Cilegon

oleh -43 Dilihat
TKP CIlegon
TKP terbunuhnya M. Axle, anak politikus PKS Maman Suherman.

KabarBaik.co- Tabir misteri pembunuhan dengan korban Muhammad Axle (MA), 9, anak politikus PKS di Cilegon itu akhirnya tersibak. Seperti disampaikan polisi, HA, tersangka telah memberikan pengakuan mengejutkan. Lilitan utang besar disebut sebagai biang hingga menyeret pemuda 31 tahun itu pada keputusan supernekat. Menggarong sejumlah rumah mewah yang berujung pembunuhan sadis itu.

Siang itu, Selasa, 16 Desember 2025, HA tiba di kawasan Komplek Bukit Baja Sejahtera (BBS) III, Cilegon, Dia mengendarai motor Honda Beat biru hitam tanpa nomor polisi. Datang seorang diri, mengenakan helm full face, masker menutupi wajah, jaket hitam, celana jeans, sepatu safety, dan sarung tangan melengkapi penampilannya. Pakaian itu diduga kuat bukan pilihan acak, namun semua telah dipersiapkan untuk menghindari pengenalan.

Di depan rumah korban, HA memencet bel empat kali. Rumah tingkat putih dan tampak mewah itu sunyi. Tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, HA memutuskan untuk masuk dengan cara lain. Pelaku memanjat tiang di samping pos satpam, lalu turun ke halaman rumah. Dari sana, ia menyusuri lorong kiri rumah utama hingga berhenti di jendela kamar pembantu. Dengan alat yang dibawa, HA mencongkel jendela dan masuk ke dalam rumah.

Langkah pertamanya tertuju ke lantai satu. Di sana, sebuah brankas menarik perhatiannya. Pintu brankas itu terbuka, namun isinya tak bisa diambil. HA mengutak-atik, menggeser brankas dari posisi semula, mencoba berbagai cara, tetapi tetap gagal. Tak ada barang berharga yang berhasil dibawa.

Waktu terus berjalan. HA lalu naik ke lantai dua. Di lantai atas, pelaku masuk ke sebuah kamar. Di atas kasur, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, MA, sedang bermain ponsel. HA bergegas memberi isyarat agar korban diam. Ia lalu bertanya singkat. “Ayahmu di mana?” Pelajar kelas IV SD itu menjawab singkat bahwa ayahnya sedang keluar rumah. Tentunya, sambal ketakutan dengan orang asing itu.

Pelaku kemudian menanyakan kunci brankas. Korban menggeleng. MA mengatakan tidak tahu dan menyebut kemungkinan kakaknya yang mengetahui, sambil menunjuk kamar lain di lantai dua. Jawaban itu tak memberi jalan keluar bagi HA.

Bocah kecil tersebut kemudian dibawa ke balik lemari dan diikat. Namun, anak itu melawan. Berteriak. Situasi berubah cepat. Dalam kondisi panik, HA mengeluarkan senjata tajam dan menusuk korban. Tusukan tak berhenti sekali. Berdasarkan hasil pemeriksaan, terdapat 19 luka akibat senjata tajam dan benda tumpul di tubuh korban.

Setelah penusukan, HA turun kembali ke lantai satu. DIa mendekati brankas yang sebelumnya gagal dibuka. Di sana, polisi kemudian menemukan bekas darah, di atas brankas dan di sekitar kunci kombinasi. Pelaku lalu meninggalkan rumah tersebut.

Rekaman CCTV milik tetangga memperlihatkan HA masuk ke rumah korban sekitar pukul 13.17 WIB dan keluar pada pukul 13.42 WIB. CCTV di rumah korban sendiri diketahui tidak berfungsi sejak lama, sementara rumah itu juga tidak dilengkapi petugas keamanan.

Beberapa waktu kemudian, ayah korban, Maman Suherman, menerima telepon dari anak keduanya yang terdengar panik dan meminta pertolongan. Maman yang sedang kerja di luar bergegas pulang. Saat membuka pintu rumah, sang ayah mendapati MA dalam kondisi tengkurap, bersimbah darah. Korban lantas dibawa ke Rumah Sakit Bethsaida. Namun, nyawanya tak tertolong.

Di balik aksi keji itu, belakangan polisi menemukan motif sederhana sekaligus menghancurkan. Uang. HA terlilit utang besar setelah mengalami kerugian dalam investasi kripto. HA sempat menggunakan tabungan istrinya sebesar Rp 400 juta, yang pernah berkembang hingga Rp 4 miliar. Namun akhirnya habis. Upaya menutup kerugian dilakukan dengan meminjam uang dari bank, koperasi, dan pinjaman online (pinjol) dengan total Rp 820 juta, uang yang kembali lenyap di pasar kripto.

Di saat bersamaan, HA menyampaikan pengakuan kepada polisi bahwa sedang menderita kanker stadium tiga dan rutin menjalani pengobatan. Tentu butuh uang besar.

Pembunuhan itu bukan akhir dari rangkaian kejahatan HA. Pada Minggu, 28 Desember 2025, dia kembali mencuri di rumah mewna lain yang juga sedang kosong. Kali ini, sasarannya rumah mantan anggota DPRD Kota Cilegon di wilayah Ciwedus. Aksinya disebut membuahkan hasil. Beberapa barang berharga dan perhiasan. Aksi serupa kembali dilakukan pada 2 Januari 2026 di lokasi yang sama. Dia berniat mengambil brangkas yang dia lihat pada aksi pertama.

Namun, pada percobaan pencurian di rumah mantan anggota DPRD  itulah langkah HA terhenti. Ia kepergok asisten rumah tangga (ART). Panik, HA melompat dari lantai dua, meninggalkan tas dan sepatu, lalu bersembunyi di garasi. ART berteriak meminta pertolongan. Warga berdatangan dan juga melapor ke polisi.

Petugas cepat datang dengan senjata lengkap. Di benak petugas, telah mencurigai pelaku karena ciri-cirinya identik dengan pelaku pembunuhan anak di BBS III itu. Saat tas HA digeledah, polisi menemukan dua bilah pisau dan sebuah kunci pas. Pisau tersebut kemudian diuji di Puslabfor. Hasilnya, DNA korban MA masih menempel di bilah pisau itu.

Dengan bukti CCTV, uji DNA, dan pengakuan pelaku, HA pun ditetapkan sebagai tersangka tunggal. Pemuda asal Palembang, Sumatera Selatan, itu dijerat pembunuhan terhadap anak di bawah umur yang diawali pencurian dengan pemberatan (curat), dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau maksimal 20 tahun.

Kronologi dan motif tindak pidana pencurian dan pembunuhan tersebut disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Banten, Kombes Pol Dian Setyawan, bersama jajaran dalam konferensi pers, Senin (5/1). Kini, HA yang disebut bekerja di perusahaan swasta itu mesti bersiap-siap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di meja hijau. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.