KabarBaik.co, Kota Mojokerto – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengikuti workshop pengelolaan sampah di Jepang atas undangan resmi Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI).
Workshop tersebut diikuti oleh rombongan dari Indonesia yang dipimpin Rofi Alhanif, Asdep Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan, didampingi Kirsfianti Linda Ginoga, Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim.
Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto, mengatakan workshop ini menjadi pengalaman belajar yang berharga, baik secara profesional, personal, maupun institusional.
“Program ini memberikan banyak pelajaran penting dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” katanya.
Selama kegiatan, Ning Ita merasa terhormat karena praktik pengelolaan sampah di Mojokerto ditampilkan sebagai salah satu contoh kolaborasi lintas sektor.
“Tidak hanya dari sisi teknis dan regulasi, tetapi juga bagaimana membangun kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat,” ujar Ning Ita, dalam keterangannya, Sabtu (31/1).
Pengakuan ini tidak terlepas dari kerja sama dengan Rekosistem dan sejumlah mitra sektor swasta Jepang, seperti Ajinomoto, Yakult, Unicharm, Panasonic, dan Marubeni.
“Pengakuan ini bukan tujuan akhir, melainkan dorongan bagi kami untuk terus mengembangkan upaya yang telah dirintis di Kota Mojokerto,” katanya.
Di Kota Mojokerto, melalui kolaborasi TPS3R di Kelurahan Magersari, pemerintah kota berhasil menurunkan timbulan sampah hingga 46,53 persen pada 2025 melalui daur ulang, pengomposan, dan pengurangan sampah dari sumbernya.
Ning Ita juga memaparkan program Ibu Meguru, yang memberdayakan ibu rumah tangga sebagai pelaku utama pemilahan sampah di rumah.
Program ini dilengkapi kantong sampah khusus dan sistem insentif, terbukti meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku.
Selain itu, Kota Mojokerto menggelar kegiatan SPOGOMI, yaitu olahraga sambil mengumpulkan sampah. Kegiatan ini dinilai efektif meningkatkan kesadaran publik dengan cara yang menyenangkan dan inklusif.
Dalam workshop, Ning Ita juga berkesempatan melakukan kunjungan ke fasilitas pengelolaan sampah di JFE dan J-Circular (Kawasaki dan Meguro), mempelajari regulasi pengelolaan sampah di Jepang, praktik di Kota Osaki dan SOO Recycling, serta mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR) oleh JCPRA.
Semua pengalaman tersebut memberikan wawasan tentang sinergi antara teknologi, sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat.
Dengan pengalaman ini, Ning Ita berkomitmen memperluas kolaborasi dengan pemerintah pusat, masyarakat, mitra Jepang, Rekosistem, dan sektor swasta.
Setelah berhasil bersama Rekosistem dan perusahaan konsorsium Jepang, langkah selanjutnya adalah pengelolaan sampah di sungai.
“Ke depan semoga ada sinergi pengelolaan sampah di sungai. Kota Mojokerto dialiri tujuh anak sungai dan tengah mengembangkan wisata sungai di Taman Bahari Mojopahit (TBM),” pungkasnya. (*)








