OLEH: ZAINAL ARIFIN EMKA
”WARTAWAN itu membawa misi kenabian,” kata Lutfil Hakim saat berbicara dalam forum peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Sidoarjo.
Maksud ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWIP Provinsi Jawa Timur itu, wartawan seharusnya membawa pesan peringatan bagi yang bersalah dan memberi kabar gembira bagi pelaku kebenaran.
Elok sekali tuturan itu. Bukan ungkapan berlebihan juga.
Sejarah Islam mencatat, ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan kepada umatnya bahwa ia telah melakukan perjalanan Isra dan Mikraj, tidak semua pengikutnya percaya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang kemudian berbalik murtad.
Namun, ketika seseorang menyampaikan kabar spektakuler itu dengan nada ragu kepada Abu Bakar, dengan tegas ia menyatakan: “Kalau Muhammad yang mengatakan itu, lebih dari itupun aku pecaya!’’
Yang hendak saya katakan dengan memetik sebuah episode dari perjalanan kerasulan Muhammad itu adalah, betapa pentingnya kejujuran dalam pergaulan hidup manusia, dalam hubungan interaktif antarmanusia, dalam komunikasi antarmanusia.
Pernyataan Abu Bakar yang percaya tanpa reserve atas semua pernyataan Muhammad –bahkan untuk sesuatu yang muskil pada saat itu- tentu saja tidak datang dengan tiba-tiba. Kepercayaan itu merupakan buah yang tumbuh dari benih-benih kejujuran yang ditebarkan Muhammad. Laki-laki itu sudah mendapat gelar dari kaumnya sejak sebelum diangkat menjadi nabi sebagai Al Amin, Tepercaya.
Dan, wartawan sepatutnyalah mesti berterima kasih bahwa di tengah-tengah begitu langkanya kejujuran di zaman edan ini, menurut penelitian Dewan Pers, publik masih menaruh kepercayaan pada wartawan. Karena itulah media pemberitaan masih diikuti orang, dibaca, didengar, dan ditonton orang dengan percaya.
Tentu saja kadar kepercayaan orang kepada media bisa berbeda, bahkan naik turun. Bergantung pada kejujuran yang ditebarkannya.
“Ya, kalau yang memberitakan koran Anu, anggap saja sekadar hiburan, jangan terlalu dipercaya!” kata seseorang. Dan kata yang lain, “Kalau koran Itu, yang hebat kan cuma judulnya, isinya biasanya ndak ada apa-apanya!”
Maka, alangkah senangnya kalau watawan berada di balik media yang ketika orang membaca berita yang sangat susah diterima akal sekalipun, reaksinya seperti Abu Bakar: “Kalau yang memberitakan koran Fulan, lebih aneh dan lebih dahsyat dari itupun aku percaya!”
Memang, bisnis media informasi bertumpu sepenuhnya pada kepercayaan. Kepercayaan yang tumbuh dari kejujuran para wartawannya. Akan terasa lucu jadinya kalau setelah membaca suatu berita, seseorang masih harus datang sendiri ke lokasi kejadian untuk mengecek kebenarannya. Atau masih merasa perlu membaca berita dari media lain untuk mencocokkannya.
Lalu apa pentingnya wartawan mesti punya sikap jujur?
Banyak orang percaya wartawan ikut berperan dalam membentuk pendapat publik. Atas dasar itu saja maka segera muncul tuntutan wartawan mestilah menjalankan profesinya dengan penuh kejujuran.
Tentu saja bukan cuma wartawan yang mesti jujur. Profesi lain seperti dokter, guru, hakim, atau sekadar pekerjaan sebagai penjual jajanan pun mesti berlaku jujur. Adalah cari penyakit namanya jika kita menyerahkan seorang pasien ke tangan dokter yang tidak jujur. Dan betapa berbahayanya menyerahkan anak kita kepada guru yang tidak jujur.
Celakanya, tingkat bahayanya memang tidak bisa segamblang itu bila kita menyerahkan konsumsi informasi untuk publik kepada wartawan yang tidak punya mental kejujuran.
Padahal, sebagaimana dokter yang tidak jujur, guru yang tak bertanggung jawab dengan kejujurannya, wartawan yang meliput dan melaporkan hasil liputan yang tak jujur pun, juga berpotensi menimbulkan persoalan.
Risiko terkecil, wartawan bisa merusak nama baik orang.
Risiko yang agak besar, karena berita bohong yang disebarkannya, masyarakat menelan informasi yang menyesatkan. Dan, risiko yang lebih besar, karena informasi yang menghasut, bisa mengobarkan kepanikan dan memancing tindak kekerasan.
Alhasil, kejujuran merupakan piranti mutlak seorang wartawan untuk memandu keterampilan, rasa tanggung jawab, tidak berpihak, adil, berimbang yang dituntut profesi wartawan.
Di masa ketika kebebasan pers berhembus, sikap profesional seperti itu kian terasa pentingnya. Orang media sekali waktu perlu merenungkan dan kemudian dengan berhati-hati menggunakan kebebasan memperoleh dan menyebarkan informasi yang dimilikinya dengan penuh kejujuran.
Bukan saja wartawan tak boleh tergelincir memelintir informasi yang berarti menyebarkan kebohongan, tapi juga dengan cerdas dan penuh kearifan mesti menimbang-nimbang dampak yang mungkin timbul dari laporan yang dibuatnya.
Janganlah dengan dalih kebebasan dan hak menyatakan pendapat wartawan terperosok menjadi penyebar kebencian dan kekerasan. Jangan juga dengan dalih yang sama wartawan terjebak pada pekerjaan menyebarkan informasi tidak benar, kebohongan, dan tuduhan yang menyesatkan.
Dari seorang teman saya memperoleh bahan renungan menarik tentang betapa pentingnya kejujuran. Suatu saat ia memesan teman kencan, artis sinetron yang lagi ngetop. Ketika diantar ternyata sang germo hanya membawa perempuan yang hanya mirip sang artis.
Dalihnya, sang artis beneran sedang sibuk syuting.
Simaklah apa yang kemudian pernyataan temannya teman saya tadi. Saya kutip sesuai aslinya: “Sejak saat itu saya kapok berhubungan dengan germo itu. Saya tidak lagi mempercayainya!!!”
Nilai hikmah yang saya pungut dari kisah berlumpur itu adalah: ternyata bisnis kotor pun harus dijalankan dengan bersih, dengan kejujuran.
Dan bisnis informasi –sependek yang saya ketahui– adalah bisnis bersih. Tentunya mesti dijalankan dengan bersih, dengan penuh kejujuran agar tepercaya.
Saya tentu saja boleh separo percaya setengah curiga, kisah itu sebenarnya bukan tentang temannya teman saya, tapi kisah tentang pengalamannya sendiri. Dan Anda, juga boleh tidak percaya, itu bukan kisah tentang teman saya, tapi pengalaman saya sendiri. Akh, betapa mahalnya kepercayaan. (*)
—
*) ZAINAL ARIFIN EMKA, Dosen Jurnalistik dan Asesor Uji Kompetensi Wartawam (UKW)









