KabarBaik.co, Mataram – Seorang perempuan asal Karawang, Jawa Barat, berinisial ID, 23, diduga menjadi korban penganiayaan oleh pacarnya sendiri di salah satu gerai minimarket di Kota Mataram, Jumat (20/2) siang.
Pelaku yang diketahui berinisial PR diduga melakukan tindak kekerasan dengan memukul dan menjambak korban di lokasi kejadian. Beruntung, aksi tersebut tidak sampai menimbulkan luka serius pada korban.
Kejadian itu langsung mendapat perhatian dari anggota Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda NTB Bripda Baiq Fira, yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi.
Ia bergerak cepat setelah menerima laporan dari adiknya mengenai adanya dugaan penganiayaan terhadap seorang perempuan di Indomaret.
“Saya tadi sedang berada di rumah sakit, lalu adik saya memberi tahu ada perempuan yang dianiaya di Indomaret. Saya langsung menuju lokasi,” ujar Bripda Baiq Fira kepada KabarBaik.co.
Menurut keterangan Baiq Fira, pelaku sempat membawa kabur mobil yang digunakan korban. Namun tak lama kemudian, pelaku kembali ke lokasi.
Setelah dilakukan mediasi dan pembicaraan di tempat kejadian, korban memutuskan untuk meninggalkan pelaku.
ID mengaku mengenal PR sekitar satu tahun lalu saat bekerja di Bali. Karena bujuk rayu dan janji akan memenuhi seluruh kebutuhannya di Lombok, ia rela meninggalkan pekerjaannya dan ikut ke Mataram.
“Saya tinggalkan pekerjaan saya di Bali karena dia berjanji akan memenuhi kebutuhan saya di Lombok. Tapi kenyataannya, saya sering dipukuli dan dianiaya di rumah. Alasannya supaya saya tahu mana yang salah,” ungkap korban.
Ia menuturkan, pada awal hubungan pelaku bersikap baik. Namun seiring waktu, sikapnya berubah menjadi kasar dan kerap melakukan kekerasan jika keinginannya tidak dituruti. Bahkan, Indah mengaku pernah dipukul dan dijambak hingga mulutnya berdarah.
“Saya sering dipukul dan dijambak. Pernah sampai mulut saya berdarah,” tuturnya di hadapan Bripda Baiq Fira.
Selain kekerasan fisik, ID juga mengaku kerap dimintai uang oleh pelaku, termasuk meminjam kepada ibunya di Karawang. Namun, pengembalian uang tersebut sering kali sulit dilakukan.
“Kalau dia pinjam uang ke ibu saya, kadang susah sekali dikembalikan. Kita seperti mengemis dulu baru dikasih,” kisahnya.
Baiq Fira juga mengungkapkan, sebelum kejadian, korban sempat diminta pelaku untuk menggadaikan telepon genggam miliknya guna memenuhi kebutuhan hidup.
Namun di tengah perjalanan, korban berubah pikiran, yang diduga memicu kemarahan pelaku hingga terjadi dugaan kekerasan. “HP ini mau digadai atas permintaan pacarnya tadi,” jelas Baiq Fira.
Saat ini, ID mengaku masih kebingungan karena belum memiliki ongkos untuk kembali ke kampung halamannya dan tidak memiliki sanak saudara baik di Bali maupun di Lombok. Ia berencana menunggu kesempatan untuk meninggalkan Lombok dan menjauh dari pelaku.
Setelah dilakukan perundingan, pelaku meninggalkan lokasi. Sementara itu, Bripda Baiq Fira memastikan keselamatan korban dan berjanji akan memberikan perlindungan serta membantu mencarikan solusi terbaik.
“Sementara kita pastikan dulu dia aman, karena dia belum memutuskan kapan akan keluar dari Pulau Lombok. Sambil mencari solusi, kalaupun harus tinggal sementara di rumah saya juga tidak masalah,” ujarnya.
Ia juga meminta korban untuk segera menghubunginya atau aparat kepolisian apabila kembali merasa terancam atau mengalami tindakan kekerasan.
Pihak kepolisian memastikan akan memberikan rasa aman kepada korban dan siap menindaklanjuti apabila korban kembali mendapatkan tindak kekerasan.(*)






