KabarBaik.co, Surabaya – Bayangkan seorang maestro yang sudah puluhan tahun memimpin ribuan konser, kemudian berdiri di depan ruang kelas. Bukan sebagai bintang panggung, melainkan sebagai mahasiswa biasa. Duduk berdampingan dengan anak-anak muda berusia seperempat abadnya.
Itulah gambaran Anang Hermansyah saat menempuh pendidikan S-2. Pada 15 Januari 2026, di ruang sidang Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair), Anang berhasil mempertahankan tesis dengan nilai A dan secara resmi menyandang gelar bari. Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (MPSDM).
Titel MPSDM itu terbilang langka. Pasalnya, gelar MPSDM itu satu-satunya di Indonesia. Hanya ada di Unair, Jadi, begitu gelar itu tersemat di belakang nama, maka orang sudah mengetahui bahwa Anang adalah alumnus Unair.
Pada 6 Februari 2026, suami Ashanty itu ikut yudisium bersama 130 lulusan lain, menyempurnakan babak baru dalam perjalanan hidupnya yang sudah penuh warna. Bagi Anang, gelar tersebut tentu bukan sekadar kertas berstempel. Tapi, seolah sebuah orkestra baru yang disusun di usia 56 tahun, ketika banyak orang memilih menurunkan volume hidup dan menikmati senja.
“Pas kuliah di Unair, saya banyak menemukan hal-hal yang tidak pernah saya jalanin dalam hidup, karir, maupun bekerja,” ujarnya dilansir dari laman resmi Unair, dengan nada penuh syukur dalam kesan yudisium.
Kalimat itu seperti not balok pertama dari sebuah komposisi baru. Sederhana, tapi membuka pintu bagi irama yang lebih dalam.
Diketahui, program Magister PSDM Unair bukan jurusan biasa, yang hanya mengajarkan rekrutmen dan gaji. Prodi itu lebih mirip kebun raya manusia di tengah badai era digital. Di sini, mahasiswa diajarkan bagaimana “merawat” potensi manusia agar tidak layu di tengah disrupsi teknologi, agar setiap individu bisa tumbuh seperti pohon beringin yang akarnya kuat sekaligus daunnya selalu hijau.
Kurikulumnya strategis, berfokus pada inovasi, kepemimpinan transformatif, dan pengembangan SDM berkelanjutan. Ada peminatan Analitika Data yang seperti kaca pembesar masa depan, dan peminatan Industri Kreatif yang dipilih Anang, sebuah ruang di mana seni bertemu strategi, di mana musik bukan lagi hiburan semata, melainkan ekosistem yang butuh tata kelola adil.
Tesis Anang berjudul Transformasi Tata Kelola Musik di Era Digital atau lebih tepat Tinjauan Relevansi Performing Rights Organization pada Industri Musik Indonesia. Seperti seorang konduktor yang melihat orkestra musik streaming berantakan, royalti tertunda, transparansi hilang, musisi kecil seperti daun kering tertiup angin platform digital, dia mengusulkan sistem hibrida. Gabungan legitimasi hukum lama dengan kecepatan dan transparansi blockchain serta teknologi digital.
Tesis Anang bukan sebatas teori, tapi solusi nyata agar nada-nada ciptaan para musisi Indonesia tak lagi hilang di lautan algoritma. “Saya benar-benar menemukan tempat sekolah yang saya impikan dari zaman dulu. Saya bangga bisa lulus di UNAIR,” katanya lagi.
Apa yang membuat perjalanan ini begitu memukau adalah bagaimana Anang “memanusiakan” dirinya di tengah mahasiswa yang rata-rata berusia 25-30 tahun. Foto-foto viral di TikTok dan Instagram menunjukkan ia duduk lesehan di taman kampus, mengerjakan PPT bersama teman kelompok, nongkrong makan bareng, bahkan membentangkan spanduk ucapan selamat setelah sidang tesis. Bukan pose selebriti, tapi sikap seorang sahabat.
Dosen di Sekolah Pascasarjana Unair pun dia gambarkan bukan sebagai guru yang angkuh, melainkan “dosen rasa teman”. Cair, diskusi terbuka, seperti obrolan di warung kopi setelah latihan band. Atmosfer itu membuatnya lebih gemar membaca buku dan berani berdiskusi secara terbuka. Tentu saja, sebuah babakan transformasi yang jarang terjadi pada orang seusianya yang sudah mapan.
PSDM Unair sendiri memiliki akreditasi internasional ABEST-21, campuran mahasiswa praktisi dan akademisi, serta relevansi tinggi di zaman AI dan disrupsi.
Bagi Anang yang sudah puluhan tahun berkarier di industri musik sekaligus dunia politik, program ini seperti jembatan emas yang menghubungkan dua dunia. Yakni, panggung hiburan yang glamor tapi sering chaos, dengan tata kelola manusia yang humanis. Anang membuktikan bahwa pengembangan SDM bukan monopoli perusahaan raksasa, tapi juga milik industri kreatif yang selama ini seperti kapal tanpa nahkoda di lautan platform global.
Kisah ini pun menyebar bagai riak di kolam. Netizen pun turut membagikan video dan foto Anang kerja kelompok, caption “tidak ada kata terlambat untuk belajar”, “kuliah lagi bikin terasa lebih muda”.
Ribuan komentar penuh inspirasi: dari ibu rumah tangga yang ingin kuliah lagi, hingga pekerja kantoran yang merasa terjebak rutinitas. Anang tak hanya lulus, ia menjadi metafora hidup bahwa usia hanyalah angka, sementara semangat adalah api yang bisa dinyalakan kapan saja.
Dan cerita belum berakhir. Ketika ditanya soal rencana selanjutnya, Anang menjawab tegas dengan satu kata yang seperti jeda dramatis sebelum klimaks simfoni. “Lanjut!” Dia berencana melanjutkan ke S-3 di kampus yang sama, mengikuti jejak istrinya Ashanty yang sudah lebih dulu menempuh doktor di Sekolah Pascasarjana PSDM Unair. Satu keluarga, dua generasi, satu komitmen. Belajar seumur hidup.
Di tengah zaman yang serba cepat dan sering membuat manusia merasa kecil, Anang Hermansyah menjadi bagian yang ikut mengingatkan bahwa hidup adalah simfoni panjang yang tak pernah selesai ditulis. Kadang jadi solois di panggung, kadang jadi mahasiswa yang duduk di bangku belakang.
Yang terpenting, nada itu tetap mengalir—dari gitar akustik tahun 90-an hingga tesis digital 2026. Gelar Magister PSDM ini bukan akhir, melainkan prelude bagi babak yang lebih megah.
Anang tak hanya pulang dengan ijazah. Dia pulang dengan perspektif baru, hati yang lebih muda, dan keyakinan bahwa setiap manusia, apa pun usianya, selalu punya ruang untuk tumbuh. Seperti musik yang baik, perjalanannya tak hanya indah didengar, tapi juga mengajak ikut bernyanyi. “Belajar itu tak kenal senja, ilmu tak pernah terlambat.” (*)







