Angka Anak Tidak Sekolah Usai Lulus SMP di Sidoarjo Masih Tinggi

oleh -149 Dilihat
WhatsApp Image 2025 08 26 at 4.29.34 PM
Anak sekolah menengah pertama saat pulang sekolah (istimewa)

KabarBaik.co – Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Sidoarjo pada jenjang SMP dan MTs masih terbilang tinggi. Berdasarkan data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Sidoarjo hingga Juni 2025, tercatat ada 1.568 lulusan SMP dan 408 lulusan MTs yang tidak melanjutkan ke pendidikan tingkat SMA/SMK/MA.

Kabid Mutu Pendidikan Dispendikbud Sidoarjo Netti Lastiningsih mengungkapkan, meski jumlah tersebut cukup besar, kondisinya lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau dulu anak SMP yang tidak sekolah ada 2.068, kini menjadi 1.568, selisihnya 500 anak atau turun 24 persen,” jelasnya, Selasa (26/8).

Dari total 1.568 anak SMP yang masuk kategori ATS, mayoritas berstatus Lulus tapi Tidak Melanjutkan (LTM) sebanyak 1.086 anak, sedangkan sisanya 482 anak benar-benar putus sekolah. Situasi di MTs pun tak jauh berbeda. Dari 408 anak ATS, ada 238 anak LTM dan 170 anak Drop Out (DO).

“Ini juga mengalami penurunan, dari yang awalnya 1.088 anak menjadi 408 anak atau turun 62 persen,” tambah Netti.

Menurutnya, tantangan utama ada pada fase transisi dari jenjang SMP/MTs menuju pendidikan menengah atas.

“Ini artinya banyak siswa yang sudah menuntaskan pendidikan menengah pertama, tapi terhenti saat harus masuk pendidikan atas,” terangnya.

Padahal, lanjutnya, SMA/SMK/MA merupakan tahap penting sebelum anak masuk ke dunia kerja maupun perguruan tinggi.

Ada banyak faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Di antaranya siswa harus membantu orang tua, minimnya motivasi melanjutkan sekolah, hingga sebagian memilih jalur pendidikan nonformal seperti pondok pesantren.

“Ada banyak faktor penyebab ATS tingkat SMP, seperti anak harus membantu orang tua bekerja, kurangnya minat sekolah, serta siswa yang lebih memilih sekolah informal seperti pondok pesantren,” ucapnya.

Saat ini, angka ATS di Sidoarjo menempatkan daerah ini di peringkat ke-13 tertinggi se-Jawa Timur. Karena itu, upaya pencegahan terus dilakukan, salah satunya dengan mendatangi langsung wilayah pinggiran dan perbatasan untuk pendataan.

“Kami terus berupaya menekan angka ATS dengan jemput bola ke desa, pendataan by name by address dan memfasilitasi anak masuk ke sekolah terdekat,” bebernya.

Selain itu, pihaknya juga berencana menggandeng berbagai stakeholder dalam memperkuat jangkauan program.

“Kami mencoba menyasar daerah pinggiran dan perbatasan, nantinya kami juga bekerja sama dengan semua pihak untuk pendataan dan penjangkauan,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.