KabarBaik.co – Kabupaten Sidoarjo sebagai salah satu daerah penyangga utama Ibu Kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya, masih belum terlepas dari kemiskinan meski didukung dana anggaran APBD sebesar Rp 5 triliun. Meski demikian, warga Sidoarjo patut berbangga lantaran angka kemiskinan terus menunjukkan tren penurunan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BOS) Sidoarjo, secara year on year angka kemiskinan mengalami penurunan 0,47 poin. Jika pada Maret 2023 angka kemiskinan tercatat sebesar 5,00 persen maka di bulan Maret 2024 angka kemiskinan turun menjadi 4,53 persen.
Jika dihitung secara real maka warga yang bebas dari kemiskinan dalam satu tahun terakhir sebesar 9,76 ribu jiwa.
Garis Kemiskinan Sidoarjo pada Maret 2024 sebesar Rp 597.284 per kapita dalam satu bulan. Bertambah sebesar Rp 25.588 atau meningkat sebesar 4,48 persen, dibandingkan kondisi Maret 2023 yang sebesar Rp 571.696.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sidoarjo menuturkan bahwa ada sejumlah faktor yang menyebabkan angka kemiskinan ini menurun. Namun paling sesar dipengaruhi oleh meningkatnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
“Faktor determinan kebanyakan rasio PDRB cukup tinggi, ini menunjukkan bahwa pendapatan masyarakat juga meningkat, tingkat inflasi rendah dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga turun,” katanya.
Sementara faktor lainnya adalah adanya bantuan sosial yang diberikan oleh Pemkab Sidoarjo kepada warga kurang mampu. Hal ini secara tak langsung telah membuat mereka mengurangi anggaran untuk beli beras.
“Pembagian beras mengurangi inflasi, bukan masalah kemiskinan secara langsung, namun faktor utama cukup beragam,” terangnya.
“Sehingga dengan pembagian beras, inflasi yang dipicu kenaikan harga beras dapat ditekan,” pungkasnya.(*)








