KabarBaik.co, Malang – Komitmen mempertemukan Aremania dan Bonek untuk membangun perdamaian antarsuporter di Jawa Timur mulai direalisasikan. Dua kelompok suporter tersebut duduk bersama dalam forum silaturahmi dan dialog yang digelar di salah satu rumah makan di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Rabu (12/8) tadi malam.
Pertemuan yang difasilitasi Kapolres Pasuruan AKBP Harto Agung Cahyono itu diikuti 25 perwakilan Bonek dan 30 perwakilan Aremania. Dialog digelar sebagai bagian dari upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif setelah kericuhan perayaan HUT Aremania di Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.
Forum tersebut merupakan tindak lanjut komitmen Kapolresta Malang Kota Kombes Danang Setiyo Pambudi Soekarno bersama Dirintelkam Polda Jawa Timur Kombes Pol. Bondan Witjaksono untuk mempertemukan kedua kelompok suporter.
Salah satu kesepakatan yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut adalah penanganan terhadap pelanggaran diarahkan kepada individu yang terbukti melakukan kesalahan, bukan menyasar kelompok suporter secara keseluruhan.
Pertemuan ini sekaligus menjadi ruang komunikasi langsung untuk membangun kesepahaman dan meredam potensi konflik. Kedua kelompok juga didorong meninggalkan permusuhan yang selama ini membayangi rivalitas sepak bola Jawa Timur.
Kapolresta Malang Kota Kombes Danang Setiyo Pambudi Soekarno mengatakan rivalitas antara Aremania dan Bonek seharusnya hanya berlangsung secara sportif di dalam pertandingan.
“Bonek dan Aremania adalah saudara sesama warga Jawa Timur. Pertemuan ini menjadi momentum untuk memutus rantai permusuhan dan tidak mewariskan dendam kepada generasi berikutnya,” tegas Danang saat dikonfirmasi, Kamis (13/8).
Menurut Danang, perdamaian antarsuporter tidak cukup dibangun melalui imbauan. Komunikasi secara langsung antara tokoh suporter hingga akar rumput menjadi langkah penting untuk membuka ruang saling memahami sekaligus mencegah provokasi berkembang menjadi konflik.
Ia berharap tokoh-tokoh suporter dapat menjadi teladan bagi anggotanya dengan menunjukkan kedewasaan dan sportivitas dalam mendukung klub masing-masing.
“Rivalitas harus tetap berada di lapangan. Di luar lapangan, kita harus menjaga persaudaraan dan keamanan Jawa Timur,” ujarnya.
Sementara itu, Dirintelkam Polda Jatim, Kombes Pol. Bondan Witjaksono mengajak Aremania dan Bonek bersama-sama menggaungkan semangat “Jogo Jawa Timur”.
Bondan menilai menjaga kondusivitas wilayah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk komunitas suporter. Ia juga mengingatkan pengaruh media sosial terhadap dinamika antarsuporter.
Informasi yang belum terverifikasi maupun provokasi di media sosial, kata dia, dapat menyebar dengan cepat dan berpotensi memperbesar persoalan di lapangan.
“Tokoh dan komunitas suporter harus aktif mengingatkan anggotanya agar tidak mudah terpancing provokasi di media sosial. Mari bersama menjaga Jawa Timur tetap aman dan kondusif,” kata Bondan.
Komitmen tersebut dinilai semakin penting karena Jawa Timur akan menghadapi berbagai agenda besar. Soliditas antarelemen masyarakat perlu diperkuat agar rivalitas olahraga tidak berkembang menjadi konflik sosial.
Dukungan terhadap upaya tersebut disampaikan perwakilan Aremania, Dedi Arisandi. Ia menilai penindakan terhadap individu yang melakukan pelanggaran diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga komitmen perdamaian yang tengah dibangun.
Tokoh Aremania dari Presidium Arema Bidang SDM, Tedi Kresna, juga menyatakan dukungan terhadap penguatan komunikasi dan perdamaian antarsuporter.
Dari kubu Bonek, Tokoh Bonek Pandaan, Reza, menyampaikan keprihatinan atas insiden di Sukorejo. Ia mendorong komunikasi di tingkat akar rumput terus diperkuat agar setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog sebelum berkembang menjadi gesekan.
Pertemuan Aremania dan Bonek tersebut juga menjadi langkah preventif Polda Jatim bersama jajaran kewilayahan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dalam kegiatan yang melibatkan massa suporter.
Melalui pertemuan tersebut, kedua kelompok diharapkan dapat membangun pola hubungan baru yang lebih dewasa. Rivalitas tetap menjadi bagian dari sepak bola, tetapi persaudaraan dan keamanan masyarakat menjadi kepentingan bersama.
Semangat “Jogo Malang, Jogo Jawa Timur” pun diharapkan tidak sekadar menjadi slogan, melainkan diwujudkan melalui komunikasi, sikap saling menghormati dan komitmen bersama menciptakan sepak bola Jawa Timur yang lebih damai dan bermartabat. (*)






