Warga Ring 1 Pabrik Semen Tuban Adukan Dampak Lingkungan ke DPRD, Ancam Blokade Akses Jika Tak Didengar

oleh -105 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 13 at 1.38.23 PM
Rapat pertemuan dengar pendapat di komisi 1 DPRD Tuban mengenai persoalan warga dengan Semen Indonesia pabrik Tuban (Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Tuban – Keluhan warga di kawasan ring 1 PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Pabrik Tuban terkait dugaan polusi debu dan bau menyengat kembali mencuat. Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan (AMPL) Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, meminta perusahaan segera mengambil langkah serius untuk mengatasi persoalan tersebut.

Tuntutan itu disampaikan warga saat mengikuti rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi 1 DPRD Tuban dan perwakilan PT SIG Pabrik Tuban di ruang Komisi 1 DPRD Tuban.

Dalam audiensi tersebut, warga mengaku aktivitas perusahaan berdampak terhadap kenyamanan lingkungan. Mereka menyebut debu dan bau menyengat diduga berasal dari aktivitas produksi perusahaan dan telah mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Kami menuntut adanya tindakan serius untuk penanganan debu maupun bau yang ditimbulkan perusahaan PT SIG. Kami juga mengharapkan adanya kompensasi dan tentunya menunggu kapan ini direalisasikan,” kata salah satu warga, Joyo Muhasan, Kamis (13/7).

Joyo menyebut sekitar 700 kepala keluarga (KK) di Desa Sumberarum diduga terdampak debu dan bau menyengat tersebut. Bahkan, menurut dia, terdapat 17 warga yang mengalami keluhan sesak napas.

Warga berharap perusahaan segera merealisasikan tuntutan yang disampaikan. Mereka menduga sumber polusi berasal dari cerobong serta pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) maupun non-B3 yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan.

“Kami menunggu tindak lanjut dan koordinasi dari PT SIG. Kalau tuntutan kami ini tidak dipenuhi, kami akan memblokade akses PT SIG,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi 1 DPRD Tuban Suratmin mengatakan pihaknya akan mendorong PT SIG Pabrik Tuban segera merespons keluhan dan tuntutan masyarakat.

“Kita ingin secepatnya pihak semen menindaklanjuti tuntutan warga. Jangan sampai para warga ini menanyakan kembali ke kami. Tentunya sebelum warga menanyakan kembali, pihak semen harus sudah menindaklanjutinya,” ujar politisi Partai Golkar tersebut.

Sementara itu, Senior Manager of Corporate Communication PT SIG Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, mengatakan keluhan warga menjadi perhatian sekaligus bahan evaluasi bagi perusahaan.

“Kalau ada proses aktivitas produksi yang kurang sempurna maka akan diperbaiki,” katanya.

Terkait adanya warga yang mengeluhkan sesak napas dan sakit kulit, Dharma mengatakan sebelumnya telah melakukan pengobatan gratis di sejumlah wilayah yang disebut terdampak.

Menurut dia, hasil pemeriksaan medis saat kegiatan tersebut tidak menunjukkan adanya warga yang mengalami sakit kulit maupun sesak napas yang disebabkan debu dari aktivitas perusahaan.

“Berdasarkan informasi dari dokter yang melakukan pemeriksaan, yang banyak itu sakitnya hipertensi, pusing, dan ini faktornya banyak. Seperti sesak itu kan faktornya juga banyak, bisa dari flu dan batuk dan bisa saja itu bukan dari debu, tetapi dari pola makan,” jelasnya.

Meski demikian, SIG memastikan akan mengomunikasikan kembali tuntutan warga dengan pihak AMPL untuk mencari langkah penyelesaian atas persoalan tersebut.

Keluhan mengenai debu dan bau menyengat sebelumnya juga disampaikan warga Desa Sumberarum pada akhir Juli 2026. Kondisi yang disebut telah berlangsung cukup lama itu dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat dan memunculkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap kesehatan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.