KabarBaik.co, Nganjuk – Nganjuk merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur. Nganjuk yang mempunyai sebutan Bumi Bayu Anjuk Ladang ini memiliki akar sejarah yang dalam. Namun banyak hal tentang asal-usulnya yang masih belum dipahami secara benar oleh warganya.
Hal ini diungkapkan oleh Sukadi, seorang sejarawan Nganjuk yang juga aktif di Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk) serta Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk.
Sukadi mengatakan Nama Nganjuk berasal dari kata ‘Anjuk Ladang’ yang berarti ‘tanah kemenangan’. Kata ini tercatat dalam Prasasti Anjuk Ladang tahun 859 Saka atau 937 Masehi di masa pemerintahan Sri Maharaja Pu Sindok dari Kerajaan Mataram Medang.
Prasasti ini ditemukan di Candi Lor, Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, dan menjadi dasar penetapan tanggal 10 April sebagai hari jadi Nganjuk sesuai Surat Keputusan Bupati tahun 1993.
Menurut Sukadi, pada masa itu, setelah kerajaan Medang menang melawan pasukan Melayu dari Sriwijaya, dibangunlah tugu kemenangan ‘Jaya Stamba’ dan warga sekitar mendapatkan status desa perdikan bernama Anjuk Ladang.
“Saat itu rakyat Anjuk Ladang mengundang sejumlah pejabat dari kerajaan Mataram Medang bersama rajanya. Mereka turut menjadi saksi prosesi penetapan sima (desa) bersama kepala desa, tetangga dan rakyat Anjuk Ladang sendiri,” jelasnya kepada KabarBaik.co, Minggu (25/1)

Sukadi menambahkan prosesi Manu Suk Sima yang pernah dilakukan kala itu diawali dengan arak-arakan rombongan Pu Sindok, pejabat kerajaan dan rakyat Anjuk Ladang. Hal itu menggambarkan kebersamaan.
Mereka berjalan menuju bangsal witana di Candi Sri Jaya Merta atau Candi Lor. Seiring waktu, kata Anjuk berkembang menjadi Nganjuk akibat perubahan dan pergeseran bahasa.
Pada masa Kesultanan Mataram, Nganjuk merupakan sebuah kadipaten yang kemudian dilebur menjadi Kabupaten Berbek dengan ibu kota di Berbek. Pada tahun 1880 masa kolonial Belanda, ibu kota dipindahkan ke Nganjuk karena lokasinya yang lebih strategis dan telah selesainya pembangunan stasiun kereta.
Perpindahan ini dikenal dengan istilah Boyong Nata Praja. Akhirnya, pada tanggal 30 Mei 1885, nama Kabupaten Berbek resmi diubah menjadi Kabupaten Nganjuk.
Kesalahpahaman dalam Peringatan Hari Jadi
Sukadi menyoroti adanya kesalahpahaman dalam peringatan hari jadi Nganjuk. Selama puluhan tahun, perayaan sering diwarnai dengan pawai alegoris yang mengusung tema ‘boyong’ dari Berbek ke Nganjuk, padahal kedua peristiwa ini tidak memiliki korelasi.
Sukadi sebagai Humas Kota Sejumlah mengatakan masyarakat saat ini beranggapan HUT Nganjuk adalah boyong.
“Hal inilah yang perlu diluruskan, supaya masyarakat tidak terjebak dalam paradigma yang salah,” ungkapnya
Sukadi juga menegaskan hari jadi Nganjuk berbasis pada peristiwa tahun 937 M, sedangkan boyong adalah peristiwa kolonial tahun 1880. Selain itu, lokasi perayaan juga seharusnya lebih dekat dengan Candi Lor sebagai sumber sejarah utama, bukan Berbek.

“Pasnya ya hari jadi Nganjuk. Karena pada waktu itu (10 April 937) tidak ada yang namanya kabupaten. Kabupaten Nganjuk itu baru ada dan berdiri 1 Januari 1929,” urainya
Sebagai bagian dari TACB, Sukadi turut mendukung upaya merekomendasikan Candi Lor atau dikenal juga dengan Candi Boto karena terbuat dari susunan bata merah, Candi Ngetos, dan 35 benda koleksi Museum Anjuk Ladang untuk ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kabupaten.
Ia sangat menyayangkan belum ditetapkannya situs-situs bersejarah tersebut, padahal mereka erat kaitannya dengan tonggak berdirinya Nganjuk.
“Kita berharap dengan penetapan sebagai cagar budaya, jejak sejarah Nganjuk bisa lebih baik dilestarikan dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai budaya daerah bagi generasi mendatang,” tandasnya. (*)







