KabarBaik.co – Di tengah hiruk-pikuk awal tahun, sebuah perjuangan sunyi tengah berlangsung di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya. Stok darah golongan O—yang kerap menjadi penopang utama berbagai kondisi darurat medis—kini kosong sama sekali. Situasi yang nyaris selalu berulang setiap awal tahun ini kembali menghadirkan kegelisahan yang sama: soal nyawa dan harapan.
Kepala Bagian Pelayanan dan Humas UDD PMI Kota Surabaya, dr. Wandai RMK, mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal PMI Surabaya membutuhkan sedikitnya 350 kantong darah per hari dari berbagai golongan darah. Kebutuhan itu untuk memenuhi permintaan rumah sakit yang rata-rata bisa mencapai empat hingga lima permintaan darah setiap harinya.
Namun, awal tahun ini menghadirkan tantangan tersendiri. Permintaan darah golongan O meningkat tajam, sementara stok yang tersedia justru terus menipis hingga akhirnya habis tak tersisa. Padahal, golongan darah O dikenal sebagai donor universal yang sangat dibutuhkan, terutama untuk pasien dalam kondisi darurat.
“Permintaannya meningkat signifikan. Karena itu kami bergerak cepat agar kekosongan ini tidak berdampak pada pelayanan pasien,” ujar dr. Wandai, Kamis (8/1).
Di tengah keterbatasan, PMI Surabaya memilih tidak tinggal diam. Berbagai langkah dilakukan untuk mengetuk kepedulian masyarakat. Informasi darurat stok darah disebarluaskan melalui media sosial, jaringan relawan PMI, hingga komunitas pendonor, dengan harapan masyarakat—khususnya pemilik golongan darah O—tergerak untuk datang dan berdonor. “Kami berharap penyebaran informasi ini bisa efektif. Setiap satu kantong darah sangat berarti bagi keselamatan pasien,” tambahnya.
Menurut dr. Wandai, kondisi krisis darah sebenarnya bukan hal baru. Kelangkaan stok kerap terjadi menjelang hingga setelah libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Aktivitas donor darah cenderung menurun karena libur panjang, sementara kebutuhan layanan medis justru tetap berjalan, bahkan meningkat.
“Setiap tahun polanya hampir sama. Namun golongan darah yang kosong tidak selalu sama. Tahun ini yang paling terasa adalah golongan O,” jelasnya.
Di balik angka dan data, krisis darah ini menyimpan cerita tentang manusia yang saling bergantung satu sama lain. Tentang pasien yang menunggu di ruang perawatan, keluarga yang menggantungkan harapan, dan para pendonor yang menjadi jembatan kehidupan bagi mereka yang membutuhkan.
PMI Kota Surabaya pun mengajak masyarakat untuk menjadikan donor darah bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata solidaritas dan kepedulian antarsesama. Sebab di saat darah menjadi langka, setetes kepedulian dapat menjadi penentu kehidupan.






