KabarBaik.co, Surabaya – Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan terus menunjukkan peningkatan. Seiring dengan itu, muncul pendekatan baru dalam menjalani gaya hidup sehat sekaligus ramah lingkungan. Bukan sekadar tren sesaat, gerakan ini berkembang menjadi upaya kolektif yang melibatkan berbagai pihak dalam satu ruang kolaborasi.
Semangat tersebut tergambar dalam gelaran Bangga Membumi Pop-Up Exhibition 2026 yang mengusung tema Synergizing for Nature, Collaborating for the Earth. Selama empat hari pelaksanaan, kegiatan ini menjadi titik temu antara pelaku usaha ramah lingkungan, akademisi, komunitas pengelola limbah, hingga masyarakat umum.
Di dalam ruang pameran, pengunjung tidak hanya disuguhi beragam produk berbasis keberlanjutan. Lebih dari itu, mereka diajak memahami cerita di balik setiap karya—mulai dari proses pengolahan limbah, lahirnya kreativitas berbasis kepedulian, hingga langkah kecil yang mampu memberi dampak besar bagi lingkungan.
Pendekatan kolaboratif menjadi kekuatan utama dalam kegiatan ini. Gaya hidup berkelanjutan tidak lagi dimaknai sebatas penggunaan produk ramah lingkungan, tetapi juga mencakup kesadaran terhadap pola konsumsi, pengelolaan sampah, serta dampak jangka panjang terhadap bumi.
Founder & CEO PT Kreasi Karya Raya (Dus Duk Duk), Arief Susanto, menegaskan bahwa perubahan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses bersama yang berkelanjutan.
“Melalui konsep pameran kolaboratif ini, kami ingin mendorong perubahan perilaku masyarakat secara bertahap, agar lebih sadar terhadap dampak konsumsi dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujarnya, Sabtu (25/4).
Selain menghadirkan pameran produk daur ulang, kegiatan ini juga diramaikan dengan berbagai diskusi seputar isu keberlanjutan. Topik yang diangkat beragam, mulai dari peran media dalam mengangkat isu lingkungan, kontribusi industri kreatif, hingga perspektif akademisi dalam membangun sistem yang lebih ramah lingkungan.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan membutuhkan sinergi lintas sektor.
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat mengikuti kelas terbuka dan workshop yang memperkenalkan konsep circular economy atau ekonomi sirkular. Melalui pendekatan ini, masyarakat diajak memandang limbah bukan sebagai akhir, melainkan sebagai awal dari produk baru yang memiliki nilai guna.
Suasana pameran semakin hidup dengan kehadiran instalasi seni dan dekorasi yang seluruhnya dibuat dari material daur ulang. Hal ini menjadi bukti bahwa kreativitas dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Lebih dari sekadar pameran, kegiatan ini
membawa pesan kuat bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dalam sebuah sistem yang saling terhubung. Dari langkah sederhana seperti mengurangi sampah hingga memilih produk berkelanjutan, perubahan kolektif diyakini mampu menciptakan dampak besar bagi masa depan bumi.







