KabarBaik.co- Di rumah-rumah tua di dataran tinggi Garut dan Tasikmalaya, banyak jendela masih memakai tirai dari anyaman bambu yang digulung ke atas saat pagi, dan dibiarkan turun saat sore menjelang magrib.
Namun ada satu kebiasaan yang diwariskan diam-diam: tirai anyaman tidak boleh diturunkan tergesa-gesa, apalagi sambil marah. Jika dilakukan, dipercaya bisa membangunkan sesuatu yang disebut warga sebagai Siliwung.
Makhluk Tanpa Wujud, Tapi Bernapas
Siliwung adalah entitas tak kasatmata yang dipercaya sebagai roh dari udara terjebak udara yang panas, penuh amarah, atau suara-suara yang tak sempat dikeluarkan seseorang saat sedang bersedih atau kecewa.
Ketika tirai bambu digulung dengan kasar atau dijatuhkan sembarangan, udara yang selama ini tertahan di baliknya dipercaya melepaskan diri secara tidak wajar, dan Siliwung pun muncul bukan sebagai bentuk, tapi sebagai gejala.
Warga menyebut tanda-tanda kehadiran Siliwung antara lain:
Angin yang berputar hanya di dalam ruangan, tidak menyentuh pohon di luar. Tirai bergerak pelan saat ruangan tertutup rapat. Bau wangi bunga cempaka atau amis daging mentah, bergantian.
Tidak Mengganggu, Tapi Menyimpan Rasa
Siliwung tidak membisikkan atau menampakkan diri. Ia hanya membuat penghuni rumah merasa berat di ubun-ubun, seperti ada tekanan yang tidak bisa dijelaskan. Kadang, anak-anak kecil jadi sering menangis tanpa sebab setiap sore hari, atau ayam peliharaan enggan bertelur di sekitar jendela tersebut.
Menurut kepercayaan lokal, satu-satunya cara menenangkan Siliwung adalah dengan membuka semua jendela rumah selama tiga hari berturut-turut, dari fajar hingga matahari sepenuhnya terbit, sambil membakar kulit jeruk kering sebagai penyeimbang unsur udara.
Namun, jika sudah terlanjur terganggu, warga menyarankan untuk tidak tidur menghadap jendela, sebab Siliwung akan menyusup ke mimpi, dan menyampaikan cerita-cerita yang tidak pernah terjadi, tapi terasa seperti milik sendiri.






