KabarBaik.co, Surabaya – Tradisi Lebaran Ketupat yang dirayakan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri membawa berkah tersendiri bagi para perajin lontong dan ketupat di Kampung Lontong, Surabaya, Jawa Timur.
Permintaan yang meningkat tajam membuat para pelaku usaha harus menaikkan kapasitas produksi hingga dua kali lipat dari hari biasa.
Salah satu sentra produksi yang merasakan lonjakan permintaan tersebut adalah Rumah Lontong Ayu yang berlokasi di Banyu Urip Lor Gang 10, Surabaya.
Dalam kondisi normal, usaha ini mampu memproduksi sekitar 18 hingga 20 keranjang lontong setiap hari, dengan isi sekitar 70 lontong per keranjang.
“Kalau hari biasa kami bikin 18 sampai 20 keranjang,” ujar Ayu, Kamis (26/3).
Dengan jumlah tersebut, produksi harian berkisar antara 1.400 hingga 1.500 lontong. Namun, memasuki momen Lebaran Ketupat, jumlah produksi meningkat drastis hingga dua kali lipat untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Tak hanya dari sisi jumlah, penyesuaian juga terjadi pada harga dan ukuran. Pada hari biasa, lontong dijual dengan harga Rp 5.000 untuk empat buah. Sementara saat Lebaran Ketupat, lontong dijual Rp 2.000 per buah dengan ukuran yang lebih besar.
Selain lontong, Ayu juga memproduksi ketupat yang khusus tersedia saat momen Lebaran Ketupat. Produk ini dijual dengan harga berkisar Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per buah, tergantung ukuran.
Dalam proses pembuatannya, Ayu masih mempertahankan cara tradisional dengan menggunakan daun pisang sebagai pembungkus. Daun pisang dipotong sesuai ukuran, di mana satu lembar dapat digunakan untuk hingga empat porsi lontong, kemudian diisi beras dan direbus hingga matang.
Produk lontong dan ketupat dari Kampung Lontong ini kemudian didistribusikan ke berbagai pasar tradisional di Surabaya, seperti Pasar Mangga Dua, Pasar Simo, dan sejumlah pasar lainnya.
Momen Lebaran Ketupat pun menjadi salah satu periode penting bagi para pelaku usaha di kawasan tersebut, sekaligus menjaga kelestarian tradisi kuliner khas yang terus hidup di tengah masyarakat.






