KabarBaik.co, Banyuwangi – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, mendorong adanya standarisasi waktu dalam penerapan pola operasi Tiba Bongkar Berangkat (TBB) di lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang – Pelabuhan Gilimanuk.
Standar waktu tersebut dinilai penting agar skema TBB benar-benar efektif mengurai kemacetan kendaraan yang terjadi di pelabuhan.
Hal itu disampaikan Bambang Haryo saat meninjau arus mudik di Pelabuhan Ketapang, Senin (16/3). Dalam kunjungan tersebut, politisi Partai Gerindra itu melakukan pertemuan dengan sejumlah pemangku kepentingan sektor maritim, sekaligus meninjau posko kesehatan dan posko terpadu di area pelabuhan.
Menurutnya, penerapan TBB yang memiliki batas waktu jelas akan meningkatkan frekuensi perjalanan kapal sehingga antrean kendaraan bisa lebih cepat terurai.
“Pola tiba bongkar berangkat ini sudah diterapkan oleh ASDP. Saya sudah sampaikan kepada ASDP maupun pihak perhubungan agar dibuat satu standarisasi waktu TBB,” ujarnya.
Bambang Haryo menjelaskan, proses TBB sebenarnya dapat dilakukan dalam waktu singkat. Bahkan menurutnya maksimal hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.
Ia mengaku telah membuktikan langsung proses tersebut saat memimpin pelaksanaan TBB di kapal KMP Dharma Kencana IX yang sandar di dermaga MB IV Pelabuhan Ketapang.
Dari uji coba tersebut, proses bongkar muat kendaraan hingga kapal kembali berangkat dapat diselesaikan sekitar tujuh menit.
“Ini termasuk kapal yang terbesar di lintasan Ketapang–Gilimanuk. Tadi kita bongkar sekitar lima sampai tujuh menit, harusnya bahkan bisa lima menit,” jelasnya.
Namun demikian, ia masih menemukan kapal yang membutuhkan waktu lebih dari 15 menit untuk menerapkan pola TBB. Menurutnya kondisi itu seharusnya bisa dipercepat, terutama untuk kapal berukuran lebih kecil.
Karena itu, Bambang Haryo meminta pihak terkait segera menetapkan batas waktu operasional TBB. Dengan standar waktu yang jelas, jumlah trip kapal di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dalam 24 jam dapat meningkat sehingga kepadatan kendaraan di pelabuhan dapat segera terurai.
“Jadi TBB ini harus dibatasi, misalnya tidak boleh lebih dari 10 menit. Kalau ini bisa dilakukan, jumlah trip kapal dalam 24 jam akan semakin banyak,” tegasnya.








