BI Ajak Masyarakat Cintai Produk Dalam Negeri untuk Perkuat Nilai Tukar Rupiah

oleh -227 Dilihat
IMG 20260214 WA0009
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal.

KabarBaik.co, Bandung – Bank Indonesia (BI) mengajak masyarakat meningkatkan kecintaan terhadap produk dan ekonomi nasional sebagai salah satu langkah nyata menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Upaya tersebut dinilai penting di tengah tren pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang asing dalam satu dekade terakhir.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan tekanan yang cukup signifikan.

Jika pada 2015 rupiah masih berada di kisaran Rp 10.000 per dolar AS, maka pada 2025 nilainya bergerak di rentang Rp 16.000 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Kondisi ini turut memengaruhi daya beli masyarakat, khususnya terhadap barang impor.

Tekanan serupa juga terjadi terhadap mata uang regional. Pada November 2025, rupiah tercatat melemah hingga menyentuh level terendah sejak 2007 terhadap ringgit Malaysia.

Nilai tukar satu ringgit Malaysia berada di kisaran Rp 4.011 hingga Rp 4.048, meningkat dibandingkan awal tahun yang masih berada di level Rp 3.400 hingga Rp 3.590 per ringgit.

Pelemahan tersebut mencerminkan depresiasi rupiah sekitar 11–15 persen terhadap mata uang negara tetangga, yang sekaligus menjadi perhatian pelaku ekonomi mengingat Malaysia merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, menjelaskan bahwa stabilitas mata uang tidak hanya dipengaruhi faktor global, tetapi juga perilaku ekonomi masyarakat. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Capacity Building 2026 di Bandung, Sabtu (14/2).

Menurut Rifki, keberadaan mata uang nasional merupakan simbol penting kedaulatan sebuah negara. Negara yang memiliki mata uang kuat dan diakui secara internasional mencerminkan fondasi ekonomi yang kokoh.

Ia mencontohkan kawasan Eropa yang menggunakan mata uang euro, namun tidak semua negara bersedia meninggalkan mata uang nasionalnya. Inggris, misalnya, tetap mempertahankan poundsterling karena faktor identitas dan kebanggaan nasional.

“Ini bukan sekadar alat transaksi, tetapi juga simbol kedaulatan dan identitas negara,” ujarnya.

Rifki menilai, kecintaan terhadap produk dalam negeri menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar. Tingginya konsumsi barang impor, terutama produk elektronik dan gawai, menyebabkan meningkatnya kebutuhan valuta asing sehingga memberi tekanan pada rupiah.

“Kita masih banyak mengimpor barang konsumsi. Ketika impor meningkat, kebutuhan valas ikut naik, dan itu berdampak pada nilai tukar,” jelasnya.

Sebaliknya, negara yang masyarakatnya memiliki loyalitas tinggi terhadap produk domestik cenderung memiliki kebutuhan impor lebih rendah, sehingga tekanan terhadap mata uang nasional dapat diminimalkan.

Ia menegaskan, peningkatan penggunaan produk lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap barang impor, menekan permintaan valuta asing, serta memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Selain faktor domestik, Rifki juga menyoroti tantangan eksternal, termasuk kebijakan proteksionisme sejumlah negara besar yang berpotensi menghambat ekspor Indonesia. Hambatan ekspor dapat mengurangi penerimaan devisa dan berdampak pada pasokan dolar di dalam negeri.

“Ketika ekspor terhambat, pasokan devisa berkurang dan tekanan terhadap rupiah bisa meningkat,” katanya.

Karena itu, BI mendorong masyarakat untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap produk nasional sebagai langkah sederhana namun berdampak besar bagi perekonomian.

“Kalau masyarakat semakin cinta Indonesia dan lebih memilih produk dalam negeri, ekonomi akan lebih kuat, ketergantungan terhadap luar negeri berkurang, dan rupiah bisa lebih stabil,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.