Bismillah 1927: Momen 100 Tahun, Usung Kebangkitan Persebaya 1996/1997

oleh -225 Dilihat
KABAR BAIK PERSEBAYA

KabarBaik.co, ​Surabaya – Menjelang momentum bersejarah satu abad berdirinya klub, aroma kebangkitan mulai ditiupkan dari Kota Pahlawan. Mengusung jargon sakral “Bismillah 1927”, Persebaya Surabaya kini menatap momen 100 tahun.

Tentu semua berharap satu misi besar. Scudetto alias juara di 2027! Para suporter rindu kembali memori dan mentalitas jawara yang pernah runtuh, tepatnya saat mereka merajai sepak bola tanah air di musim legendaris 1996/1997.

​Bukan tanpa alasan era tersebut dijadikan kiblat. Bagi Bonek dan Bonita, musim 1996/1997 adalah standar emas keindahan sepak bola Persebaya. Di bawah komando taktik almarhum Rusdy Bahalwan, Persebaya tidak sekadar menang, melainkan menghibur dengan permainan bola pendek cepat yang atraktif.

Sihir Trio Asing-Lokal dan Gelar Pertama Era Modern

Ingatan publik Surabaya dan sekitarnya tentu tidak akan pernah lupa pada musim Liga Indonesia (Ligina) III tersebut. Persebaya menjelma menjadi The Dream Team yang menakutkan berkat kombinasi jenius trio legendaris. Carlos de Mello sebagai otak serangan di lini tengah, sang kapten Aji Santoso yang mengawal lini pertahanan, serta Jacksen F. Tiago, predator mematikan di lini depan yang menyabet gelar Top Skor dengan koleksi 26 gol.

​Puncaknya terjadi pada 28 Juli 1997 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Di hadapan puluhan ribu pasang mata, trofi juara Liga Indonesia modern untuk kali pertama berhasil dibawa pulang ke Kota Pahlawan setelah menumbangkan Bandung Raya dengan skor telak 3-1. Gol penalti dari Aji Santoso, sontekan Jacksen F. Tiago, dan gol penutup Reinald Pieters menjadi tinta emas yang mengunci gelar tersebut.

Dominasi Mutlak dan Statistik Monster

​Mengusung semangat kebangkitan dari era 96/97 berarti siap menuntut tim saat ini untuk tampil dominan. Berdasarkan catatan sejarah, statistik The Dream Team kala itu terbilang sangat mengerikan dan sulit ditandingi oleh generasi mana pun:

​Sepanjang musim, Bajul Ijo memainkan total 25 pertandingan dari babak wilayah hingga partai final. Hasilnya? Mereka mencatatkan 18 kemenangan, 4 hasil seri, dan hanya 3 kali menelan kekalahan.

​Yang paling mengagumkan adalah produktivitas lini serang mereka. Persebaya berhasil memasukkan 82 gol dan hanya kemasukan 25 gol, membuat mereka surplus selisih gol sebanyak +57. Dengan rataan mencetak gol fantastis mencapai 3,28 gol per pertandingan, Persebaya era itu adalah mesin gol yang paling ditakuti di Indonesia.

​Dahaga Gelar di Era Baru Liga 1
​Hasrat untuk mereplikasi kedigdayaan 1996/1997 kian membuncah jika melihat pasang surut prestasi Persebaya di era modern. Sejak berhasil kembali ke kasta tertinggi Liga 1 pada tahun 2017 silam, rapor terbaik tim berjuluk Green Force ini adalah menyabet posisi runner-up pada musim 2019.

​Saat itu, Persebaya dihuni oleh barisan pemain seperti sang bomber David da Silva—yang musim ini menyabet gelar top skor bersama Malut United FC—serta legiun asing kreatif Diogo Campos. Ketajaman mereka dikombinasikan dengan bakat lokal luar biasa, termasuk duet andalan Rachmat Irianto dan Koko Ari Araya, dua nama yang pada musim ini kembali memperkuat pelataran lini belakang Persebaya.

​Namun setelah capaian 2019 tersebut, Persebaya seolah tertahan di papan tengah dan atas tanpa bisa menyentuh podium juara. Bahkan dalam dua musim terakhir berturut-turut, Persebaya harus puas finis dan tertahan di posisi keempat klasemen akhir BRI Super League. Catatan konsisten di empat besar ini menjadi modal berharga sekaligus pelecut evaluasi bahwa Green Force butuh lompatan besar untuk kembali ke jalur juara.

Menuju Satu Abad Kejayaan

​Angka “1927” bukan sekadar tahun kelahiran, melainkan identitas, harga diri, dan manifesto perjuangan. Jika angka itu dijumlahkan 1+9+2+7 maka ketemu 19. Jumlah huruf sama dengan lafal Bismillahirrahmanirrahim. Sebuah doa dan harapan.

Kini, menyongsong usia yang ke-100 tahun, Persebaya Surabaya ditantang untuk memutus dahaga gelar dan melompati bayang-bayang posisi keempat di liga. Reuni golden standard lalu diharapkan mampu memancarkan kembali jiwa spartan Arek-Arek Suroboyo.

​Sentuhan magis antarpemain harus kembali hidup layaknya harmoni Carlos de Mello dan Jacksen F. Tiago di masa lalu. Momen satu abad ini bukan sekadar seremoni tiup lilin dan menyanyikan Song For Pride, melainkan sebuah momentum sakral untuk mengakhiri penantian panjang dan mengembalikan Persebaya ke habitat aslinya: puncak tertinggi sepak bola Indonesia.

​Bismillah 1927, saatnya sejarah emas 1996/1997 berulang kembali. Laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyiladzhim. Wani! (*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.