KabarBaik.co, Sidoarjo – Di musim penghujan, hujan yang hampir setiap hari mengguyur Jawa Timur di berbagai wilayah kini disertai peningkatan potensi cuaca ekstrem. BMKG Juanda mengeluarkan peringatan dini yang berlaku pada 1 hingga 10 Maret 2026.
Sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Pacitan, Ponorogo, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Pasuruan, Sidoarjo, Gresik, hingga Surabaya dan sekitarnya. Wilayah tersebut diprakirakan mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Kepala Stasiun Meteorologi Juanda Taufiq Hermawan mengatakan, kondisi ini dipengaruhi masa peralihan musim yang membuat atmosfer menjadi lebih dinamis. “Periode peralihan musim meningkatkan potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi secara tiba-tiba,” ujarnya Senin (2/3).
Ia menjelaskan, salah satu faktor utama adalah gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah Jawa Timur. “Fenomena ini meningkatkan pertumbuhan awan konvektif yang memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” jelasnya.
Selain MJO, gelombang Low Frequency dan Rossby juga turut memengaruhi kondisi cuaca di wilayah Jawa Timur. “Kombinasi gelombang atmosfer tersebut menyebabkan kondisi atmosfer menjadi lebih labil,” tambahnya.
Faktor lain yang mendukung adalah suhu muka laut di perairan selatan Jawa Timur yang masih hangat. “Suhu muka laut yang hangat meningkatkan suplai uap air sehingga memperkuat pembentukan awan hujan,” katanya.
Dampak dari kondisi ini dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang. “Wilayah dengan topografi curam dan daerah rawan bencana perlu meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya.
BMKG Juanda mengimbau masyarakat agar waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. “Hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang dapat terjadi dalam durasi singkat,” ujarnya.
Masyarakat juga diminta memantau informasi cuaca resmi secara berkala untuk mengantisipasi risiko. “Kami mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG,” pungkas Taufiq Hermawan.(*)






