KabarBaik.co – BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Bojonegoro, pada periode 11 hingga 20 Januari 2026.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan mengatakan cuaca ekstrem tersebut berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
“Sebagian besar wilayah Jawa Timur saat ini telah memasuki puncak musim hujan. Dalam 10 hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan kejadian cuaca ekstrem yang dapat berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” ujar Taufiq, Selasa (13/1).
BMKG mencatat wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem meliputi Bojonegoro, Jombang, Tuban, Lamongan, Ngawi, Nganjuk, Madiun, Kediri, serta wilayah Madura dan kawasan tapal kuda seperti Jember, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.
Kemudian sejumlah kota besar, antara lain Surabaya, Malang, Mojokerto, Kediri, dan Probolinggo, juga termasuk daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan.
Menurut BMKG, kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia, adanya pola pertemuan angin (konvergensi), serta gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi Jawa Timur. Selain itu, suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar serta atmosfer lokal yang labil ikut mendukung pembentukan awan hujan.
“Situasi ini mendukung pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang,” jelasnya.
Hasil analisis angin gradien pada ketinggian 3.000 feet tanggal 9 Januari 2026 pukul 12.00 WIB menunjukkan angin dominan bertiup dari arah barat dengan kecepatan yang dapat meningkat hingga 28 knot di wilayah Jawa Timur. Sementara itu, nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) mengindikasikan tutupan awan yang cukup signifikan.
BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan seperti lereng perbukitan dan bantaran sungai, untuk mewaspadai potensi banjir, tanah longsor, pohon tumbang, jalan licin, dan berkurangnya jarak pandang.
“Puncak musim hujan di Jawa Timur secara umum termasuk Bojonegoro diprakirakan berlangsung pada Januari hingga Februari 2026. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko bencana,” pungkas Taufiq.
Sebelumnya pada 9 Januari lalu, sejumlah rumah di Bojonegoro tepatnya di kecamatan Ngasem dan Tambakrejo rusak berat usai diterpa angin puting beliung. Selain itu sejumlah wilayah seperti di kecamatan dander, Temayang, Gondang serta Sekar diterpa banjir bandang. (*)






