Bulog Pastikan Stok Beras NTT Aman, Cadangan Capai 93.782 Ton untuk Korban Gempa

oleh -155 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 24 at 10.12.03 AM
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani (Ist)

KabarBaik.co, Jakarta – Perum Bulog memastikan ketersediaan beras untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam kondisi aman. Perseroan menyiapkan cadangan hingga 93.782 ton untuk kebutuhan penanganan bencana sekaligus mendukung program bantuan pangan Presiden di wilayah terdampak.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan gempa bumi berdampak pada tujuh kabupaten di NTT, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.

Berdasarkan pembaruan data per 22 Agustus 2026, wilayah tersebut juga masih menghadapi aktivitas gempa susulan yang jumlahnya telah mencapai lebih dari 5.000 kejadian.

“Kami terus memastikan kebutuhan pangan masyarakat di lokasi bencana tetap terpenuhi. Untuk membantu masyarakat di lokasi bencana, kami mengoperasikan 46 unit gudang,” kata Rizal dikutip dalam pernyataan resminya, Senin (24/8).

Dari puluhan gudang tersebut, tiga unit berada di Labuan Bajo dengan kapasitas 4.650 ton, tujuh unit di Ruteng berkapasitas 7.400 ton, serta tiga unit di Ende dengan kapasitas sekitar 3.000 ton.

Menurut Rizal, gudang Bulog yang berada di luar wilayah terdampak juga dapat dimanfaatkan sebagai titik distribusi bantuan apabila diperlukan.

“Stok beras Bulog di NTT saat ini berkisar 26.336 ton. Jumlah ini sebenarnya sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan tanggap darurat bencana alam,” ujarnya.

Pasokan dari Sejumlah Daerah

Untuk memperkuat cadangan, Bulog mengalirkan tambahan pasokan melalui program Mobilisasi Nasional (Movenas).

Pasokan tersebut berasal dari sejumlah daerah, yakni 3.000 ton dari Jakarta, 20.646 ton dari Jawa Timur, 8.850 ton dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta 35.250 ton dari Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dengan demikian, total pasokan tambahan yang dimobilisasi mencapai 67.446 ton. Bulog memperkirakan kebutuhan beras selama masa tanggap darurat selama 14 hari untuk 150.576 warga terdampak mencapai sekitar 1.890 ton.

Namun, pemerintah dan Bulog tetap menyiapkan skenario apabila masa tanggap darurat harus diperpanjang. Dengan asumsi perpanjangan hingga 10 kali lipat, kebutuhan beras khusus penanganan bencana diproyeksikan mencapai sekitar 18.500 ton.

Disiapkan Juga untuk Bantuan Pangan Presiden

Di tengah penanganan bencana, Bulog juga tetap menyiapkan distribusi bantuan pangan Presiden untuk periode Agustus, September, dan Oktober 2026.

Sebanyak 852.631 penerima bantuan pangan akan mendapatkan masing-masing 10 kilogram beras setiap bulan. Dengan skema tersebut, kebutuhan beras untuk program bantuan pangan selama tiga bulan mencapai 25.578 ton.

Jika kebutuhan untuk penanganan bencana dan bantuan pangan Presiden digabungkan, total kebutuhan beras NTT diperkirakan sekitar 46.368 ton.

Sementara itu, stok awal Bulog di NTT sebesar 26.336 ton akan diperkuat tambahan pasokan Movenas sebanyak 67.446 ton. Dengan demikian, total cadangan yang disiapkan mencapai sekitar 93.782 ton.

Setelah dikurangi kebutuhan untuk penanganan bencana dan bantuan pangan, Bulog masih memiliki cadangan sekitar 47.444 ton. Rizal menegaskan besarnya cadangan tersebut menjadi bagian dari upaya Bulog memastikan masyarakat NTT tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan selama menghadapi masa pemulihan akibat bencana.

“Ini yang kami laporkan kepada rekan-rekan media, supaya tidak ada keraguan bahwa dukungan Bulog cukup untuk kebutuhan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sedang mengalami bencana alam,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.