KabarBaik.co, Surabaya — Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mewisuda sebanyak 1.958 lulusan dalam rangkaian wisuda selama dua hari, Sabtu-Minggu (22-23/8). Momen kelulusan tersebut tidak hanya menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik, tetapi juga diwarnai kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. mengatakan wisuda menjadi momentum untuk mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti berkarya setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
“Maknanya kami memotivasi para lulusan untuk selalu berkarya. Kemudian karya itu harus bisa memberikan dampak bagi masyarakat di tingkat nasional maupun internasional,” kata Harjo di Surabaya, Minggu (23/8).
Sebanyak 1.958 lulusan yang diwisuda berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai diploma, sarjana, magister hingga doktor.
Wisuda kali ini mengusung tema “Berkarya untuk Bangsa, Berdampak bagi Dunia”. Tema tersebut menjadi pesan bagi para lulusan agar ilmu, pengalaman, dan karya yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Untuk menumbuhkan semangat tersebut, Untag Surabaya menghadirkan seorang alumni Program Studi Teknik Arsitektur yang kini berkiprah di lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Harjo berharap kehadiran alumni yang telah meniti karier di tingkat internasional dapat menjadi inspirasi bagi para lulusan bahwa kesempatan untuk berkarya tidak berhenti pada lingkup daerah maupun nasional.
“Kehadiran beliau saya yakin akan memberikan motivasi kepada para lulusan bahwa dari Kampus Merah Putih Untag Surabaya bisa berkarya untuk dunia,” ujarnya.
Wisuda Diwarnai Kepedulian untuk NTT
Di tengah suasana bahagia para lulusan dan keluarga, rangkaian wisuda juga diisi dengan seremonial penyerahan donasi bagi masyarakat terdampak gempa bumi di NTT.
Donasi yang dihimpun Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) Untag Surabaya tersebut mencapai sekitar Rp97 juta. Dana itu selanjutnya akan digabungkan dengan bantuan yang dikumpulkan melalui gerakan Sahabat NTT.
Harjo mengatakan bantuan tersebut akan disalurkan melalui tim yang bekerja sama dengan pihak ketiga dan diharapkan dapat menjangkau langsung masyarakat di wilayah terdampak.
“Nanti kita gabung dengan donasi Sahabat NTT. Kita akan menghimpun dana dari kita Sahabat NTT. Kita gabung yang dari alumni, kemudian nanti ada tim yang bekerja sama dengan pihak ketiga yang nanti akan datang mendatangi di NTT,” katanya.
Kepedulian tersebut juga memiliki kedekatan tersendiri dengan lingkungan Untag Surabaya. Sebelumnya, terdapat puluhan mahasiswa asal NTT yang turut terdampak gempa.
Meski demikian, Harjo memastikan mahasiswa asal NTT yang dijadwalkan mengikuti wisuda pada Sabtu dapat hadir dalam prosesi kelulusan.
“Alhamdulillah yang wisuda hari ini memang ada lulusan dari NTT, Alhamdulillah hadir semua,” ujarnya.
Lulus di Tengah Kabar Gempa
Salah satu wisudawan asal NTT yang hadir dalam prosesi tersebut adalah Markus Andrianus Sumardi, lulusan Program Studi Administrasi Niaga, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya.
Markus berasal dari Larantuka, Flores Timur. Pada hari bahagianya, ia mengikuti prosesi wisuda hanya didampingi sang ibu. Sementara anggota keluarganya yang lain masih berada di Flores Timur.
Markus mengatakan keluarganya dalam kondisi aman. Wilayah tempat tinggalnya memang merasakan guncangan gempa, tetapi dampaknya tidak terlalu parah.
“Kalau daerah saya itu di Flores Timur guncangannya sedikit saja. Tidak terlalu parah juga,” ujar Markus.
Meski keluarganya selamat, Markus mengetahui sejumlah teman dan kerabatnya di NTT turut merasakan dampak gempa. Kondisi tersebut sempat membuat komunikasi menjadi sulit karena jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah mengalami gangguan.
Begitu mengetahui kabar gempa yang mengguncang wilayah Flores, Markus langsung berupaya menghubungi keluarganya. Informasi awal mengenai gempa diperolehnya melalui media sosial sebelum akhirnya dapat berkomunikasi dengan orang tuanya.
Kabar bahwa keluarganya dalam keadaan aman menjadi kelegaan tersendiri bagi Markus di tengah momentum wisudanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Untag Surabaya, Markus masih akan tinggal sementara di Surabaya. Di sisi lain, ia berharap bantuan yang dihimpun kampus bersama para alumni dapat segera sampai kepada masyarakat yang membutuhkan di NTT.
“Harapan saya semoga gerak cepat saja untuk sumbangan itu buat warga-warga terdampak di Flores,” katanya.
Bagi Markus, wisuda bukan sekadar seremoni untuk menandai selesainya pendidikan. Di balik toga dan ijazah yang diterima, terdapat harapan agar ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk melangkah sekaligus memberi manfaat bagi orang lain. Semangat tersebut sejalan dengan pesan Untag Surabaya melalui tema wisuda tahun ini: berkarya untuk bangsa dan membawa dampak yang lebih luas bagi dunia. (*)






