KabarBaik.co, Surabaya — Meracik parfum ternyata bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Bukan sekadar memilih wangi yang sudah tersedia, peserta Small Party with Arroma justru diajak mengenali beragam aroma, mencampurnya, hingga menemukan karakter wangi yang paling sesuai dengan dirinya.
Suasana kreatif itu terasa di Studio Tujuh Pagi, Jalan Kaca Piring Nomor 6, Surabaya, Minggu (23/8). Arroma berkolaborasi dengan Studio Tujuh Pagi menggelar kegiatan yang mengajak peserta berkenalan lebih dekat
dengan proses pembuatan parfum.
Di meja racik, berbagai pilihan aroma disiapkan untuk dieksplorasi. Peserta bebas mencium, memilih, dan memadukan aroma dengan bimbingan pengajar resmi Arroma.
Dari sana, sebuah wangi personal perlahan terbentuk. Ada peserta yang menyukai kesan segar, ada pula yang memilih karakter manis, hangat, atau elegan.
Pengajar resmi Arroma, Rosana, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan hobi dengan cara yang lebih terjangkau.
“Kegiatan ini merupakan sebuah wadah kesempatan untuk mengembangkan hobi dengan biaya yang terjangkau,” ujar Rosana.
Menurut dia, konsep yang digunakan memungkinkan peserta mencoba berbagai bahan aroma tanpa harus membeli seluruh bahan secara terpisah. Bahan yang tersedia digunakan sebagai display, sehingga peserta dapat mencium dan menggunakannya untuk bereksperimen langsung di lokasi.
Dengan cara tersebut, peserta bisa lebih leluasa mengenali karakter masing-masing aroma sebelum menentukan perpaduan yang diinginkan.
Menemukan Wangi yang Lebih Personal
Bagi sebagian orang, parfum bukan sekadar pelengkap penampilan. Aroma tertentu dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengekspresikan diri.
Hal itu pula yang dirasakan Amanda, salah satu peserta. Ia menikmati kesempatan untuk menciptakan parfum berdasarkan selera dan karakternya sendiri.
“Seru dan bebas berkreasi menciptakan aroma yang unik sesuai karakter saya,” kata Amanda.
Menurutnya, pengalaman meracik sendiri memberikan sensasi berbeda dibandingkan membeli parfum yang sudah jadi.
“Kalau membeli parfum refill, aromanya biasanya sudah template dan merupakan aroma yang mirip atau meniru brand lain. Kalau membuat sendiri, tentu hasilnya akan unik dan jarang dimiliki orang lain,” ujarnya.
Bagi Amanda dan peserta lainnya, kegiatan tersebut akhirnya bukan hanya soal menghasilkan parfum. Ada proses mencoba, mencium, membandingkan, lalu menentukan pilihan yang paling dirasa cocok. Proses sederhana itu membuat peserta seolah diajak mengenal selera mereka sendiri melalui
indera penciuman.
Ketika Aroma Cokelat Masuk ke Dalam Parfum
Keunikan kegiatan tersebut semakin terasa karena berlangsung di Studio Tujuh Pagi, sebuah kedai cokelat yang juga dimanfaatkan sebagai ruang kreatif.
Pemilik Studio Tujuh Pagi, Ardhia, mengatakan kolaborasi dengan Arroma membuka kesempatan bagi peserta untuk mengeksplorasi karakter aroma yang dekat dengan dunia kuliner.
“Peserta juga bisa mengeksplorasi aroma jika ingin membuat aroma gourmand, karamel, atau cokelat yang manis,” kata Ardhia.
Karakter gourmand sendiri identik dengan aroma yang mengingatkan pada makanan atau hidangan manis. Cokelat, karamel, vanila, hingga kesan seperti makanan penutup dapat menjadi inspirasi dalam menciptakan sebuah parfum.
Di sinilah pengalaman membuat parfum terasa berbeda. Peserta tidak hanya berbicara tentang wangi, tetapi juga menghubungkannya dengan sesuatu yang akrab dalam keseharian.
Aroma cokelat, misalnya, bisa membawa kesan hangat dan manis. Sementara aroma karamel dapat menghadirkan karakter yang lebih lembut dan menggoda.
Perpaduan dunia parfum dan kuliner itu membuat suasana acara terasa santai. Peserta bisa bereksperimen tanpa harus merasa sedang mengikuti kegiatan yang terlalu formal.
Dari Hobi Menjadi Pengalaman Kreatif
Small Party with Arroma pada akhirnya menawarkan cara sederhana untuk menikmati sebuah hobi. Peserta tidak dituntut menjadi ahli parfum terlebih dahulu.
Mereka cukup datang dengan rasa ingin tahu, kemudian mencoba berbagai aroma yang tersedia. Dari proses itu, peserta belajar bahwa menciptakan sebuah wewangian membutuhkan kepekaan, keberanian bereksperimen, sekaligus kesabaran dalam menemukan perpaduan yang pas.
Setiap racikan pun memiliki cerita berbeda karena dibuat berdasarkan selera masing-masing orang.
Hasil akhirnya, peserta dapat membawa pulang parfum berukuran 10 mililiter dari racikan yang dibuat sendiri. Pengalaman tersebut menjadi bagian yang membuat kegiatan ini lebih dari sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Ada ruang untuk belajar, bermain dengan aroma, sekaligus mengekspresikan karakter diri.
Melalui kolaborasi dengan Studio Tujuh Pagi, Arroma juga memperkenalkan bahwa eksplorasi parfum dapat dilakukan dengan suasana yang lebih dekat dengan masyarakat.
Bagi mereka yang baru mengenal dunia wewangian, kegiatan semacam ini memberi kesempatan untuk memahami bahwa sebuah parfum tidak selalu harus dimulai dari botol yang sudah jadi. Kadang, sebuah aroma justru terasa lebih berarti ketika seseorang ikut menciptakannya sendiri. (*)






